
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia adalah bahasa kerja (working language).
Dari sudut pandang linguistika, bahasa Indonesia adalah suatu varian bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau dari abad ke-19, namun mengalami perkembangan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja dan proses pembakuan di awal abad ke-20. Hingga saat ini, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.
Meskipun saat ini dipahami oleh lebih dari 90% warga Indonesia, bahasa Indonesia tidak menduduki posisi sebagai bahasa ibu bagi mayoritas penduduknya. Sebagian besar warga Indonesia berbahasa daerah sebagai bahasa ibu. Penutur bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Namun demikian, bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di surat kabar, media elektronika, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.
Fonologi dan tata bahasa bahasa Indonesia dianggap relatif mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.
Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.
Kerajaan Sriwijaya (dari abad ke-7 Masehi) memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuno) sebagai bahasa kenegaraan. Hal ini diketahui dari empat prasasti berusia berdekatan yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu. Pada saat itu bahasa Melayu yang digunakan bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta. Sebagai penguasa perdagangan di kepulauan ini (Nusantara), para pedagangnya membuat orang-orang yang berniaga terpaksa menggunakan bahasa Melayu, walaupun secara kurang sempurna. Hal ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal, yang secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti. Penemuan prasasti berbahasa Melayu Kuno di Jawa Tengah (berangka tahun abad ke-9) dan di dekat Bogor (Prasasti Bogor) dari abad ke-10 menunjukkan adanya penyebaran penggunaan bahasa ini di Pulau Jawa. Keping Tembaga Laguna yang ditemukan di dekat Manila, Pulau Luzon, berangka tahun 900 Masehi juga menunjukkan keterkaitan wilayah itu dengan Sriwijaya.
Kajian linguistik terhadap sejumlah teks menunjukkan bahwa paling sedikit terdapat dua dialek bahasa Melayu Kuno yang digunakan pada masa yang berdekatan. Sayang sekali, bahasa Melayu Kuna tidak meninggalkan catatan dalam bentuk kesusasteraan meskipun laporan-laporan dari Tiongkok menyatakan bahwa Sriwijaya memiliki perguruan agama Buddha yang bermutu.
Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bentuk resmi bahasa Melayu karena dipakai oleh Kesultanan Malaka, yang kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Alfred Russel Wallace menuliskan di Malay Archipelago bahwa "penghuni Malaka telah memiliki suatu bahasa tersendiri yang bersumber dari cara berbicara yang paling elegan dari negara-negara lain, sehingga bahasa orang Melayu adalah yang paling indah, tepat, dan dipuji di seluruh dunia Timur. Bahasa mereka adalah bahasa yang digunakan di seluruh Hindia Belanda." Selanjutnya, Jan Huyghen van Linschoten, di dalam buku Itinerario ("Perjalanan") karyanya, menuliskan bahwa "Malaka adalah tempat berkumpulnya nelayan dari berbagai negara. Mereka lalu membuat sebuah kota dan mengembangkan bahasa mereka sendiri, dengan mengambil kata-kata yang terbaik dari segala bahasa di sekitar mereka. Kota Malaka, karena posisinya yang menguntungkan, menjadi bandar yang utama di kawasan tenggara Asia, bahasanya yang disebut dengan Melayu menjadi bahasa yang paling sopan dan paling pas di antara bahasa-bahasa di Timur Jauh."
Kongres Bahasa Indonesia pertama telah menetapkan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau, begitu pula dengan negara serumpun lain seperti Malaysia mengakui bahwa bahasa Melayu standar adalah bahasa Melayu Riau-Johor.
Radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Gelombang ini melintas dan merambat lewat udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang hampa udara, karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut (seperti molekul udara).
Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik, dan terbentuk ketika objek bermuatan listrik dimodulasi (dinaikkan frekuensinya) pada frekuensi yang terdapat dalam frekuensi gelombang radio (RF) dalam suatu spektrum elektromagnetik. Gelombang radio ini berada pada jangkauan frekuensi 10 hertz (Hz) sampai beberapa gigahertz (GHz), dan radiasi elektromagnetiknya bergerak dengan cara osilasi elektrik maupun magnetik.
Gelombang elektromagnetik lainnya, yang memiliki frekuensi di atas gelombang radio meliputi sinar gamma, sinar-X, inframerah, ultraviolet, dan cahaya terlihat. Ketika gelombang radio dipancarkan melalui kabel, osilasi dari medan listrik dan magnetik tersebut dinyatakan dalam bentuk arus bolak-balik dan voltase di dalam kabel. Hal ini kemudian dapat diubah menjadi signal audio atau lainnya yang membawa informasi.
Meskipun kata 'radio' digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan alat penerima gelombang suara, namun transmisi gelombangnya dipakai sebagai dasar gelombang pada televisi, radio, radar dan telepon genggam pada umumnya.
Dasar teori dari perambatan gelombang elektromagnetik pertama kali dijelaskan pada 1873 oleh James Clerk Maxwell dalam papernya di Royal Society mengenai teori dinamika medan elektromagnetik (dalam bahasa Inggris: A dynamical theory of the electromagnetic field), berdasarkan hasil kerja penelitiannya antara 1861 dan 1865.
Pada 1878, David E. Hughes adalah orang pertama yang mengirimkan dan menerima gelombang radio ketika dia menemukan bahwa keseimbangan induksinya menyebabkan gangguan ke telepon buatannya. Dia mendemonstrasikan penemuannya kepada Royal Society pada 1880 tapi hanya dibilang itu cuma merupakan induksi.
Adalah Heinrich Rudolf Hertz yang, antara 1886 dan 1888, pertama kali membuktikan teori Maxwell melalui eksperimen, memperagakan bahwa radiasi radio memiliki seluruh properti gelombang (sekarang disebut gelombang Hertzian), dan menemukan bahwa persamaan elektromagnetik dapat diformulasikan ke persamaan turunan partial disebut persamaan gelombang.
Banyak penggunaan awal radio adalah maritim, untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode Morse antara kapal dan darat. Salah satu pengguna awal termasuk Angkatan Laut Jepang memata-matai armada Rusia pada saat Perang Tsushima pada tahun 1901. Salah satu penggunaan yang paling dikenang adalah pada saat tenggelamnya RMS Titanic pada tahun 1912, termasuk komunikasi antara operator di kapal yang tenggelam dan kapal terdekat, dan komunikasi ke stasiun darat mendaftar yang terselamatkan.
Radio digunakan untuk menyalurkan perintah dan komunikasi antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut di kedua pihak pada Perang Dunia II; Jerman menggunakan komunikasi radio untuk pesan diplomatik ketika kabel bawah lautnya dipotong oleh Britania. Amerika Serikat menyampaikan Empat belas Pokok Presiden Woodrow Wilson kepada Jerman melalui radio ketika perang.
Siaran mulai dapat dilakukan pada 1920-an, dengan populernya pesawat radio, terutama di Eropa dan Amerika Serikat. Selain siaran, siaran titik-ke-titik, termasuk telepon dan siaran ulang program radio, menjadi populer pada 1920-an dan 1930-an.
Peran Marconi
Dunia inovasi radio mencatat nama Guglielmo Marconi, sebagai penemu radio. Dia lahir di Bologna, Italia, 25 April 1874. Ayahnya, Giuseppe Marconi asli petani Italia dan ibunya, Annie Jameson adalah anak pemilik Puri Daphne di Irlandia, yang saat itu masuk sebagai wilayah Inggris. Ia bersekolah di Bologna, Florence, dan Leghorn.
Sejak kecil ia sudah tertarik dengan kerja Maxwell, Hertz, Righi, sampai Lodge. Dalam usia 21 tahun, 1895, ia membuat laboratorium di rumah ayahnya, di Pontecchio. Ia mengadakan penelitian soal gelombang radio - saat itu disebut sebagai "Gelombang Hertzian" - untuk mengirim sinyal telegraf. Saat itu telegraf hanya bisa lewat kabel. Ia sudah berhasil mengirim sinyal telegraf untuk jarak sejauh sekitar 2 kilometer. Temuan radio yang praktis sudah di ambang pintu jadi ia minta dukungan Departemen Pos dan Telegraf Italia. Tapi para birokrat Itali tidak tertarik, malah menutup pintu baginya.
Marconi tidak putus asa, setahun kemudian ia menghubungi Dinas Pos Inggris. William Preece, insinyur kepala Dinas Pos Inggris, bersedia bertemu dengannya dan Marconi yang kemudian datang memamerkan kemampuan radio ciptaannya di dataran Salisbury dan, kemudian, menyeberangi Bristol Chanel. Preece pun terkesan, dan Marconi akhirnya mendirikan perusahaan The Wireless Telegraph & Signal Company Limited pada 1897, yang kemudian diubahnya menjadi Marconi's Wireless Telegraph Company Limited.
Dalam dua tahun, 1899, ia sudah membangun radio antara Prancis dengan Inggris, disusul kemudian antara Amerika dengan Inggris.
Selama satu dekade hingga 1912, ia mematenkan sejumlah temuan untuk menyempurnakan sistem radio yang diciptakannya. Pada tahun 1909 ia mendapat Nobel bidang fisika.
Pada 1914, Marconi dipanggil masuk ke Angkatan Bersenjata Italia. Ia menjadi diplomat Italia ke Amerika pada 1917.
Setelah tidak lagi menjadi bagian pemerintah Italia, ia kembali ke laboratorium. Menjelang Perang Dunia II, tahun 1935, ia mendemonstrasikan temuan terbarunya, yaitu Radar. Dua tahun kemudian, 20 Juli 1937, Marconi meninggal di Roma.
Peran Howard
Edwin Howard Armstrong tercatat sebagai penemu Radio FM. Ia lahir pada tanggal 18 Desember 1890 di kota New York. Ayahnya penerbit buku dan ibunya seorang guru. Pada usia 14 tahun, Amstrong membaca buku telegraf karangan Marconi. Dia sangat kagum dengan Marconi, hanya saja ia ingin menyempurnakan radio ciptaan Marconi. Maka Amstrong pun berniat membuat radio yang bersuara jernih sambil membuat sendiri stasiun radio di rumahnya. Untuk itu, Amstrong masuk Fakultas Teknik Listrik di Universitas Columbia. Ia lulus dan menjadi guru besar dan insinyur listrik.
Pada tahun 1912, Amstrong berhasil membuat sirkuit regeneratif dan sirkuit feedback. Ia juga mempelajari tabung hampa buatan De Forest, yang bernama trioda dan audion. Kemudian, Amstrong menggabungkan penemuannya, dengan tabung hampa buatan De Forest. Hasil dari tabung tersebut keluar suara beribu-ribu kali lebih jelas.
Sayangnya, De Forest menganggap penemuan itu adalah hak miliknya. Mereka memperebutkan hak ciptanya, selama 14 tahun di pengadilan. Akhirnya, De Forest menjadi pemenangnya, karena para hakim tidak memahami ilmu kelistrikan.
Tapi para ilmuwan tetap menganggap Amstrong-lah penemu sirkuit dan FM radio. Ia dianugrahi Medali Franklin dan dijuluki “Bapak Sirkuit”. Pada tanggal 1 Februari 1954, Amstrong meninggal di New York. Ia disetarakan dengan penemu lama, di bidang kelistrikan seperti Amphere dan Bell. (berbagai sumber)

Kalau kita bandingkann dengan jepang, angka bunuh diri di tanah air termasuk kecil. Berdasarkan data dari kepolisian jepang, angka bunuh diri di jepang, terbilang sangat mencengankan, sekitar 32.552 orang untuk tahun 2005 ! Tidak terlalu jauh dengan tahun tahun sebelumnya, masih di kisaran angka 30 ribuan.. Angka yang cukup tinggi bukan ? Tentu saja Jepang selain terkenal dengan teknologinya, juga terkenal dengan angka bunuh dirinya.
Yang membedakannya dengan Indonesia mungkin kasusnya yang tidak pernah diekspose di media massa. Koran dan televisi seakan besih dari berita bunuh diri, namun kalau pelakunya adalah pejabat, orang terkenal, artis, anak sekolah atau dilakukan secara kelompok dalam jumlah banyak adalah perkecualian. Mungkin karena orang jepang menganggap bunuh diri bukan berita yang bagus atau kejadiannya yang kelewat banyak, kalau diberitakan semua bisa bisa berita lain menjadi kekurangan tempat, atau mungkin juga ada alasan lainnya. Yang jelas bunuh diri mempunyai sejarah yang amat panjang di jepang. Malu, kehilangan harga diri, gagal dalam tugas, umum diakhiri dengan bunuh diri. Bunuh diri karena miskin juga bukanlah hal yang aneh namun yang unik bunuh diri karena mungkin cinta termasuk jarang. Mungkin karena orang jepang tidak punya cinta ? Tentu saja ini adalah pertanyaan bodoh yang tidak perlu dijawab.
Melompat dari gedung tinggi, menabrakkan diri dengan kereta yang sedang melaju, menutup semua pintu mobil dan menghubungkan saluran kenalpot kedalamnya adalah pilihan favorit bagi pelaku, ebanyakan pelakunaya adalah pelakunya adalah pria (72%) dan setengahnya adalah pengangguran. Bunuh diri pada usia remaja dan anak anak usai sekolah, bisa dibilang jarang terjadi, walaupun bukan berarti tidak ada. Penyebabnya kebanyakan kerena stress dengan pelajaran di sekolah, kesepian dll.

Menabrakkan diri ke kereta yang sedang melaju kencang adalah cara bunuh diri yang membuat banyak orang susah. Bayangkan, selama beberapa jam tempat itu akan disteril, ratusan ribu penumpang harus dialihkan ke jalur lain, membuat kereta yang sudah sesak menjadi bertambah sesak. Keluarga si empunya bunuh diri juga susah, karena harus membayar denda keterlambatan kereta dan biaya bersih besih lokasi kecelakaan dll. Ini namanya, cara bunuh diri yang membuat orang lain susah. Walaupun begitu, setiap tahun ada saja yang melakukannya.
Kenapa orang Jepang senang bunuh diri ?
Senang ? Siapa yang senang, justru bunuh diri dilakukan karena perasaan tidak senang, tidak enak, tertekan, malu dan hal lain yang tentu saja tidak menyenangkan (sok tahu ! mode : on). Seperti yang saya sebutkan diatas, mungkin karena sudah budaya mereka. Mereka punya semboyan yang sangat keras, menang atau kalah, dan kekalahan sering harus berakhir dengan kematian. Ketika jepang memutuskan untuk menyerah kepada Amerika, banyak tentara yang memilih mati. Bunuh diri juga merupakan ungkapan dari rasa bersalah karena gagal dalam tugas atau ungkapan perasaan malu, seperti yang dilakukan oleh The Deputy Mayor of Kobe yang bunuh diri karena merasa tidak mampu menjalankan tugas pemulihan kota Kobe pasca gempa bumi hebat tahun 1995.
Kemudian ada juga pejabat yang segera mengambil jalan pintas ketika korupsinya terbongkar seperti kasus yang dilakukan oleh Menteri Pertanian Jepang baru baru ini yang kemudian disusul oleh kepala mantan Green Resource Agency, untuk kasus yang sama. Malah sering terjadi ketika sang anak menjadi sorotan karena melakukan suatu kejahatan, malah orang tuanya yang bunuh diri.
Seorang bapak yang melakukan bunuh diri karena kehilangan pekerjaan contohnya, keluaga yang ditingalkan tetap akan mendapatkan asuransi yang jumlahnya menurut saya sangat besar dan dijamin keluarga yang ditinggalkan tidak akan terlantar. Hal inilah mungkin yang mendorong cukup banyak keluarga yang kehilangan kepala keluarganya di negara ini. Dari pada hidup tidak berguna dan tidak menghasilkan, lebih baik mati. Mungkin begitulah kita kira terjemahannya.
Apapun alasannya, tetap tidak bisa dibenarkan. Kenapa harus bunuh diri, Bukankah masih ada jalan lain ?
Tentu saja ada, masih ada jalan lain, seperti misalnya golongan yakuza, mafianya jepang yang sama sekali tidak mengenal budaya bunuh diri. Rasa malu dan penyesalan cukup ditunjukkan dengan cara potong jari tangan doang.


Bagi masyarakat Madura, karapan sapi bukan sekadar sebuah pesta rakyat yang perayaannya digelar setiap tahun. Karapan sapi juga bukan hanya sebuah tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karapan sapi adalah sebuah prestise kebanggaan yang akan mengangkat martabat di masyarakat.
Sejarah asal mula Kerapan Sapi tidak ada yang tahu persis, namun berdasarkan sumber lisan yang diwariskan secara turun temurun diketahui bahwa Kerapan Sapi pertama kali dipopulerkan oleh Pangeran Katandur yang berasal dari Pulau Sapudi, Sumenep pada abad 13.
Awalnya ingin memanfaatkan tenaga sapi sebagai pengolah sawah. Brangkat dari ketekunan bagaimana cara membajak sapinya bekerja ,mengolah tanah persawahan, ternyata berhasil dan tanah tandus pun berubah menjadi tanah subur.
Melihat gagasan bagus dan membawa hasil positif, tentu saja warga masyarakat desa mengikuti jejak Pangerannya. Akhirnya tanah di seluruh Pulau Sapudi yang semula gersang, menjadi tanah subur yang bisa ditanami padi. Hasil panenpun berlimpah ruah dan jadilah daerah yang subur makmur.
Setelah masa panen tiba sebagai ungkapan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah Pangeran Ketandur mempunyai inisiatif mengajak warga di desanya untuk mengadakan balapan sapi. Areal tanah sawah yang sudah dipanen dimanfaatkan untuk areal balapan sapi. Akhirnya tradisi balapan sapi gagasan Pangeran Ketandur itulah yang hingga kini terus berkembang dan dijaga kelestariannya. Hanya namanya diganti lebih populer dengan “Kerapan Sapi”.
Bagi masyarakat Madura, Kerapan Sapi selain sebagai tradisi juga sebagai pesta rakyat yang dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Kerapan sebagai pesta rakyat di Madura mempunyai peran di berbagai bidang. Misal di bidang ekonomi (kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan), peran magis religius (misal adanya perhitungan-perhitungan tertentu bagi pemilik sapi sebelum bertanding dan adanya mantra-mantra tertentu), bidang seni rupa (ada pada peralatan yang mempunyai hiasan tertentu), bidang seni tari dan seni musik saronen (selalu berubah dan berkembang).
Anatomi Kerapan
Pengertian kata “kerapan” adalah adu sapi memakai “kaleles”. Kaleles adalah sarana pelengkap untuk dinaiki sais/joki yang menurut istilah Madura disebut “tukang tongko”. Sapi-sapi yang akan dipacu dipertautkan dengan “pangonong” pada leher-lehernya sehingga menjadi pasangan yang satu.
Orang Madura memberi perbedaan antara “kerapan sapi” dan “sapi kerap”. Kerapan sapi adalah sapi yang sedang adu pacu, dalam kaedaan bergerak, berlari dan dinamis. Sedang sapi kerap adalah sapi untuk kerapan baik satu maupun lebih. Ini untuk membedakan dengan sapi biasa. Ada beberapa kerapan yaitu “kerrap kei” (kerapan kecil), “kerrap raja’’ (kerapan besar), ‘kerrap onjangan” (kerapan undangan), “kerrap jar-ajaran” (kerapan latihan).
Kaleles sebagai sarana untuk kerapan yang dinaiki tokang tongko dari waktu ke waktu mengalami berbagai perkembangan dan perubahan. Kaleles yang dipakai dipilih yang ringan (agar sapi bisa berlari semaksimal mungkin), tetapi kuat untuk dinaiki tokang tongko (joki).
Sapi kerap adalah sapi pilihan dengan ciri-ciri tertentu. Misalnya berdada air artinya kecil ke bawah, berpunggung panjang, berkuku rapat, tegar tegak serta kokoh, berekor panjang dan gemuk. Pemeliharaan sapi kerap juga sangat berbeda dengan sapi biasa. Sapi kerap sangat diperhatikan masalah makannya, kesehatannya dan pada saat-saat tertentu diberi jamu. Sering terjadi biaya ini tidak sebanding dengan hadiah yang diperoleh bila menang, tetapi bagi pemiliknya merupakan kebanggaan tersendiri dan harga sapi kerap bisa sangat tinggi.
Sapi kerap ada tiga macam yaitu sapi yang “cepat panas” (hanya dengan diolesi bedak panas dan obat-obatan cepat terangsang), sapi yang “dingin” (apabila akan dikerap harus dicemeti berkali-kali), dan sapi “kowat kaso” (kuat lelah, memerlukan pemanasan terlebih dahulu).
Pada waktu akan dilombakan pemilik sapi kerap harus mempersiapkan tukang tongko (joki), “tukang tambeng” (bertugas menahan, membuka dan melepaskan rintangan untuk berpacu), “tukang gettak” (penggertak sapi agar sapi berlari cepat), “tukang gubra” (orang-orang yang menggertak sapi dengan bersorak sorai di tepi lapangan), “tukang ngeba tali” (pembawa tali kendali sapi dari start sampai finish), “tukang nyandak”(orang yang bertugas menghentikan lari sapi setelah sampai garis finish), “tukang tonja” (orang yang bertugas menuntun sapi).
Beberapa peralatan yang penting dalam kerapan sapi yaitu kaleles dan pangonong, “pangangguy dan rarenggan” (pakaian dan perhiasan), “rokong” (alat untuk mengejutkan sapi agar berlari cepat). Dalam kerapan sapi tidak ketinggalan adanya “saronen” (perangkat instrumen penggiring kerapan). Perangkatnya terdiri dari saronen, gendang, kenong, kempul, krecek dan gong.
Pesta Rakyat
Umumnya sebuah pesta rakyat, penyelenggaraan Kerapan Sapi juga sangat diminati oleh masyarakat Madura. Setiap kali penyelenggaraan Kerapan Sapi diperkirakan masyarakat yang hadir bisa mencapai 1000-1500 orang. Dalam pesta rakyat itu berabagai kalangan maupun masyarakat Madura berbaur menjadi satu dalam atmosfir sportifitas dan kegembiraan.
Sisi lain yang menarik penonton dari karapan sapi adalah kesempatan untuk memasang taruhan antarsesama penonton. Jumlah taruhannya pun bervariasi, mulai dari yang kelas seribu rupiahan sampai puluhan, bahkan ratusan juta rupiah. Biasanya penonton yang berdiri disepanjang arena taruhannya kecil, tidak sampai jutaan. Tetapi, para petaruh besar, sebagian besar duduk di podium atau hanya melihat dari tempat kejauhan. Transaksinya dilakukan di luar arena, dan biasanya berlangsung pada malam hari sebelum karapan sapi dimulai.
Adu Gengsi
Pemilik sapi karapan memperoleh gengsi yang tinggi manakala mampu memenangkan lomba tradisional tersebut. Selain itu, harga pasangan sapi pemenang karapan langsung melambung. Mislnya, harga sapi yang memenangkan lomba Karapan Sapi 2003 melambung menjadi Rp200 juta dari 2 tahun sebelumnya hanya Rp40 juta.
Untuk membentuk tubuh pasangan sapi yang sehat membutuhkan biaya hingga Rp4 juta per pasang sapi untuk makanan maupun pemeliharaan lainnya. Maklum, sapi karapan diberikan aneka jamu dan puluhan telur ayam per hari, terlebih-lebih menjelang diadu di arena karapan. Berdasarkan tradisi masyarakat pemilik sapi karapan, maka hewan tersebut menjelang diterjunkan ke arena dilukai di bagian pantatnya yakni diparut dengan paku hingga kulitnya berdarah agar dapat berlari cepat. Bahkan luka itu diberikan sambal ataupun balsem yang dioles-oleskan di bagian tubuh tertentu antara lain di sekitar mata.
Sehari sebelum lomba dilaksanakan, pasangan sapi dan pemilik serta sejumlah kerabatnya menginap di tenda yang dipasang di lapangan. Tidak lupa rombongan itu dimeriahkan oleh kelompok musik tradisional Sronen yang mengarak pasangan sapi menjelang dipertandingkan. Bahkan jasa dukun pun diperlukan dalam kegiatan karapan sapi. Para “penggila” Kerapan Sapi melakukan itu semua demi sebuah gengsi atau prestise yang memang merupakan watak khas orang Madura

Ketika Nabi Saw meninggal dunia, beliau tidak meninggalkan harta benda. Hanya al-Qur’an dan sunnah sebagai peninggalan, yang sekaligus menjadi pedoman utama para pengikutnya. Inilah yang membedakan antara pemimpin-pemimpin Arab lainya. Hampir semua penguasa Arab bergelimang dengan harta benda. Ketika pemimpin wafat, jumlah kekayaannya tidak terhitung jumlahnya. Presiden Mesir, Hsuni Mubarak ternyata memiliki istana di Inggris, Sukarno, Suharta, sebagai seorang presiden telah menyimpan kekayaan yang tiada tara untuk anak dan cucunya.
Tidak demikian dengan Nabi Saw. Peninggalan-peninggalan beliau bukanlah harta benda yang sering menimbulkan finah. Tetapi, beliau justru meninggalkan pesan-pesan (hadis) yang ditulis oleh ulama’ sebagai pedoman menyambut masa depan (kematian). Sedangkan, peninggalan yang berbentuk fisik ialah, banyaknya masjid yang berada di kota Madinah. Nabi Saw juga membangun masjid (tempat sholat) dipinggiran kota Madinah. Dengan tujuan, agar supaya para pengikutnya mudah melaksanakan sholat berjama’ah. Masjid-masjid itu merupakan bukti, bahwa Nabi Saw kurang tertarik dengan duniawi, tetapi beliau tidak melarang sahabatnya menjadi kaya raya, dengan catatan tetap ingat dengan yang memberikan rejeki.
Di antara salah satu fungsi masjid yang paling vital ialah, digunakan sholat jum’at. Di jaman Nabi, sholat jum’at tidak laksanakan secara terang-terangan ketika di kota Makkah. Sedangkan di Madinah, sholat jum’at di lakukan di masjid Quba’ yang dipimpin langsung oleh Mus’ab Ibn Umair. Tetapi, ketikan Nabi sammpai di Madinah, maka sholat jum’at pertama kali dilakukan di al-Hayu (desa) Bani Salim Ibn Auf. Letakanya kira-kira 500 m dari masjid Quba’ ke arah utara. Masjid inilah yang pertama kali digunakan khutbah dan sholat jum’at serta berjama’ah dengan para sahabat Nabi Saw. masjid ini sekarang menjadi tempat bersejarah yang dibangun berulang-ulang oleh pemerintahan yang silih berganti.
Dinamakan masjid jum’ah, karena Nabi Saw pertama kali sholat jum’at di dalamnya. Sebelumnya, sholat jum’at dilaksanakan di Quba’. Agar supaya selalu mudah diingat oleh masa-masa berikutnya, maka masjid tersebut dinamakan dengan masjid’’al-jum’ah’’. Bagi jama’ah haji dan umrah, jangan lewatkan untuk berkujung ke Masjid tersebut. Tidak hanya sekedar berkunjung dan berfoto-foto, tetapi sholat dua rakaat (tahiyyatu al-masjid), sebagai bentuk penghormatan terhadap masjid. Beberapa ulama’ berpendapat bahwa sholat ditempat yang pernah dipergunakan oleh Nabi Saw memiliki keistimewaan dan berkah yang luar biasa. Walaupun demikian, tidak semua ulama’ sepakat dengan pendapat di atas. Yang jelas, masjid ’’al-jum’ah’’, lebih istimewa dengan masjid-masjid di Indonesia, jika dinilai dari sejarah dan keutamaanya sholat di dalamnya. Wallau a’lam

SEJARAH MEHNDI DESIGN / HENNA / INAI / PACAR
Seni pacar yang berlaku di tangan dan kaki dikenal sebagai Mehndi dan ini adalah adat dan seni kuno yang sangat tua bentuk benua Asia. Para dai adalah Mogul. Dinasti Mogul mengajarkan kita semua tentang sejarah Mehndi dan memperkenalkannya ke India pada abad ke 12. Selama periode bahwa penggunaan kerajaan dan kaya untuk menghiasi diri dengan itu. Pola-pola yang rumit dibuat oleh para seniman atau kecantikan. Pernikahan India tidak lengkap tanpa upacara mehndi. Ritual upacara mehndi diikuti di setiap bagian negara di mana tangan mempelai wanita dihiasi dengan warna merah indah mehndi tersebut. Pada kesempatan ini meriah atau pernikahan desain tradisional India sebagian besar dibuat di tangan pengantin wanita.
Asal mulanya dari Mesir. Ini memiliki bukti yang telah ditemukan bahwa pacar digunakan untuk menodai jari tangan dan kaki dari Firaun awal untuk mumifikasi. Proses mumifikasi waktu berhari-hari dan sebagai Mesir rajin dalam merencanakan kelahiran kembali mereka setelah kematian mereka, mereka menjadi sangat fanatik dalam proses pengawetan. Orang Mesir percaya bahwa seni tubuh memastikan pengakuan mereka ke akhirat dan karena itu digunakan Mehndi untuk mengidentifikasi mereka.
Henna memiliki kekuatan obat juga digunakan sebagai kosmetik dan untuk itu penyembuhan daya untuk pola indah ages.The lazim di hari ini India telah muncul hanya pada abad ke-20. India, sebagian besar perempuan dari yang waktu di India digambarkan dengan tangan dan kaki mereka dengan desain noda merah. Seni Mehndi telah ada selama berabad-abad. Tidak ada tempat yang tepat asal adalah diidentifikasi karena orang dalam budaya yang berbeda bergerak melalui benua dan mengambil bentuk seni mereka dengan mereka dan karena itu berbagi seni mereka dengan semua orang di sepanjang jalan.
Semak-semak dapat tumbuh dalam kondisi kering dan panas. Daun diproses sebagai kondisioner kulit dan sebagai pereda untuk ruam. The henna yang digunakan untuk mehndi berasal dari sebuah semak yang tumbuh di Afrika dan India disebut Lawsonia Inermis di Timur Tengah dan tempat yang panas dan kering lainnya. Henna digunakan untuk pewarna rambut dan sebagai conditioner. Seni Mehndi disebut sebagai henna atau mehndi
Mehndi adalah pengganti untuk tato bagi orang-orang yang terlalu takut untuk mentolerir menyembul jarum. Mehndi akan indah bagi orang-orang seperti. Beberapa orang seperti tato permanen dan ada pula yang nyaman dengan bentuk sementara seni tubuh. Bila Anda menggunakan henna untuk menghias tubuh Anda mendingin tubuh Anda juga. Dan sekarang banyak anak muda menyalurkan hobbi menggambarnya, menghasilkan uang dengan jasa menggambar inai..

Lukisan dengan obyek figur Bung Karno yang ada di Museum Bung Karno, menurut sejumlah kesaksian tampak hidup. Konon, ini bisa dilihat di bagian dadanya yang tampak berdetak layaknya orang yang sedang bernafas. Padahal, ketika masih berada di Istana Bogor, lukisan ini tak menampakkan fenomena keganjilan apapun. Lalu, fenomena apa sebenarnya yang terjadi pada lukisan bergambar tokoh proklamator ini?
Di sisi selatan makam Ir. Sukarno di Blitar, Jawa Timur, ada sebuah museum yang lebih dikenal dengan nama Museum Bung Karno. Lokasi museum ini, tepat berhadap-hadapan dengan makam sang Proklamator.
Sebagai museum yang identik dengan Bung Karno, seluruh museum ini berisi barang-barang yang semua ada kaitannya dengan presiden RI pertama tersebut. Mulai dari uang kuno bergambar Bung Karno yang dapat kembali dengan sendiri ketika digulung, buku-buku milik Bung Karno, foto-foto kegiatan suami Fatmawati ini ketika masih menjadi presiden, serta sebuah bendera kuno yang terbuat dari kain penutup dada Fatmawati yang pernah di kibarkan pada tanggal 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok.
Salah satu koleksinya termasuk pula sebuah tas koper besar dari kulit yang selalu dibawa oleh Bung Karno ketika keluar masuk penjara, atau ketika ayah kandung Megawati ini belum menjadi presiden. Disamping itu masih banyak lagi barang-barang milik Bung Karno yang dipamerkan di dalam museum ini.
Selain benda-benda yang mempunyai nilai sejarah yang erat kaitannya dengan Bung Karno, di museum yang tak pernah sepi oleh pengunjung ini, juga terdapat sebuah lukisan besar dengan ukuran 150 cm x 175 cm yang bergambar Bung Karno. Keanehan pada lukisan ini, menurut sejumlah orang yang pernah melihatnya adalah tampak hidup. Konon, siapapun yang melihat lukisan ini sambil memusatkan konsentrasi serta pandangan terarah penuh di bagian jantung Bung Karno pada lukisan ini, maka seketika tampak bergerak, seolah berdetak seperti layaknya orang yang sedang bernafas. Padahal, lukisan bergambar Bung Karno yang sedang menggunakan jas serta berkopiah ini, menurut salah satu penjaga museum bernama Tanwir, 36 tahun, tergolong lukisan baru.
Menurut keterangan Tanwir, gambar Bung Karno yang dilukis di atas kanvas ini, dilukis oleh IB Said pada tahun 2001 yang lalu. Seterusnya, setelah diserahkan kepada keluarga sang proklamator yang meninggal 21 Juni 1970 ini, disimpan di Istana Bogor. Namun tiga tahun setelah disimpan di Istana Bogor, lukisan bergambar lelaki gagah yang lahir 6 Juni 1901 ini, oleh pihak keluarga kemudian dibawa ke Blitar dan disimpan di museum Bung Karno.
Sejak disimpan di Museum Bung Karno, lukisan bergambar putra pasangan suami isteri R. Sukeni Sosrodiharjo dan Ny. Ida Ayu Nyoman Rai ini tampak hidup. Fonemena ini untuk pertama kalinya terjadi ketika perayaan Haul Bung Karno di tahun 2004 yang silam. Ketika itu, banyak pengunjung heboh karena menyaksikan lukisan seperti hidup.
Sejak saat itu, setiap kali ada pengunjung yang masuk museum ini, lukisan ini menjadi obyek yang kali pertama menjadi perhatian mereka. Lebih-lebih lagi, lukisan bergambar tokoh yang makamnya diapit oleh kedua orang tuanya ini, diletakkan tepat di depan setelah pintu masuk.
Lalu, fenomena apa sebenarnya yang terjadi pada lukisan ini?
Menurut penjaga museum Tanwir, sebagaimana cerita orang-orang linuwih yang pernah melakukan tirakat di depan lukisan ini, konon lukisan itu memang ada khodamnya. Menurut Tanwir, khodam lukisan adalah salah satu makhluk halus dari Gunung Kelud yang selalu mengawal Bung Karno ketika sang proklamator ini masih hidup.
Agaknya, setelah Bung Karno meninggal, sosok gaib ini tetap menjadi pengawal setia dan menetap di sekitar makam sang Proklamator. Karena itulah, mengapa lukisan ini baru menunjukkan fenomena setelah dipindah dari istana Bogor ke museum Bung Karno di Blitar.
“Yang jelas, menurut beberapa orang paranormal serta Kyai yang pernah mendeteksi lukisan ini, katanya memang ada sosok mantan pengawal Bung Karno yang sekarang menjadi khodam lukisan ini,” jelas Tanwir
Di sisi selatan makam Ir. Sukarno di Blitar, Jawa Timur, ada sebuah museum yang lebih dikenal dengan nama Museum Bung Karno. Lokasi museum ini, tepat berhadap-hadapan dengan makam sang Proklamator.
Sebagai museum yang identik dengan Bung Karno, seluruh museum ini berisi barang-barang yang semua ada kaitannya dengan presiden RI pertama tersebut. Mulai dari uang kuno bergambar Bung Karno yang dapat kembali dengan sendiri ketika digulung, buku-buku milik Bung Karno, foto-foto kegiatan suami Fatmawati ini ketika masih menjadi presiden, serta sebuah bendera kuno yang terbuat dari kain penutup dada Fatmawati yang pernah di kibarkan pada tanggal 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok.
Salah satu koleksinya termasuk pula sebuah tas koper besar dari kulit yang selalu dibawa oleh Bung Karno ketika keluar masuk penjara, atau ketika ayah kandung Megawati ini belum menjadi presiden. Disamping itu masih banyak lagi barang-barang milik Bung Karno yang dipamerkan di dalam museum ini.
Selain benda-benda yang mempunyai nilai sejarah yang erat kaitannya dengan Bung Karno, di museum yang tak pernah sepi oleh pengunjung ini, juga terdapat sebuah lukisan besar dengan ukuran 150 cm x 175 cm yang bergambar Bung Karno. Keanehan pada lukisan ini, menurut sejumlah orang yang pernah melihatnya adalah tampak hidup. Konon, siapapun yang melihat lukisan ini sambil memusatkan konsentrasi serta pandangan terarah penuh di bagian jantung Bung Karno pada lukisan ini, maka seketika tampak bergerak, seolah berdetak seperti layaknya orang yang sedang bernafas. Padahal, lukisan bergambar Bung Karno yang sedang menggunakan jas serta berkopiah ini, menurut salah satu penjaga museum bernama Tanwir, 36 tahun, tergolong lukisan baru.
Menurut keterangan Tanwir, gambar Bung Karno yang dilukis di atas kanvas ini, dilukis oleh IB Said pada tahun 2001 yang lalu. Seterusnya, setelah diserahkan kepada keluarga sang proklamator yang meninggal 21 Juni 1970 ini, disimpan di Istana Bogor. Namun tiga tahun setelah disimpan di Istana Bogor, lukisan bergambar lelaki gagah yang lahir 6 Juni 1901 ini, oleh pihak keluarga kemudian dibawa ke Blitar dan disimpan di museum Bung Karno.
Sejak disimpan di Museum Bung Karno, lukisan bergambar putra pasangan suami isteri R. Sukeni Sosrodiharjo dan Ny. Ida Ayu Nyoman Rai ini tampak hidup. Fonemena ini untuk pertama kalinya terjadi ketika perayaan Haul Bung Karno di tahun 2004 yang silam. Ketika itu, banyak pengunjung heboh karena menyaksikan lukisan seperti hidup.
Sejak saat itu, setiap kali ada pengunjung yang masuk museum ini, lukisan ini menjadi obyek yang kali pertama menjadi perhatian mereka. Lebih-lebih lagi, lukisan bergambar tokoh yang makamnya diapit oleh kedua orang tuanya ini, diletakkan tepat di depan setelah pintu masuk.
Lalu, fenomena apa sebenarnya yang terjadi pada lukisan ini?
Menurut penjaga museum Tanwir, sebagaimana cerita orang-orang linuwih yang pernah melakukan tirakat di depan lukisan ini, konon lukisan itu memang ada khodamnya. Menurut Tanwir, khodam lukisan adalah salah satu makhluk halus dari Gunung Kelud yang selalu mengawal Bung Karno ketika sang proklamator ini masih hidup.
Agaknya, setelah Bung Karno meninggal, sosok gaib ini tetap menjadi pengawal setia dan menetap di sekitar makam sang Proklamator. Karena itulah, mengapa lukisan ini baru menunjukkan fenomena setelah dipindah dari istana Bogor ke museum Bung Karno di Blitar.
“Yang jelas, menurut beberapa orang paranormal serta Kyai yang pernah mendeteksi lukisan ini, katanya memang ada sosok mantan pengawal Bung Karno yang sekarang menjadi khodam lukisan ini,” jelas Tanwir

epang, Jerman, Israel, Cina, Inggris, Amerika dan India punya dasar yang kuat untuk menjadi negara yang besar. Saya melihat bahwa diperlukan tidak hanya sekedar kerja keras untuk menjadi bangsa yang hebat. Kita perlu sebuah landasan psikologis rasa yang membuat kita merasa kita ini hebat. Pede gitu loch!
Saya melihat (yah…. ngintip melulu nih orang!) bahwa bangsa bangsa yang saya sebut di atas itu memang punya alasan untuk menjadi sebesar sekarang. Sejak dulu dalam sejarah pun mereka punya sesuatu yang bisa mereka banggakan. Paling tidak, bagi mereka sendiri. Itu mengapa mereka pede dengan pendirian mereka. Tidak minder dan kerja kerasnya fokus untuk membesarkan bangsa mereka.
Tentu saja tidak semua bangsa besar harus punya landasan psikologis seperti ini. Karna sebenarnya landasan psikologis kaya gini bisa diciptakan dengan propaganda terus menerus. Misalnya Malaysia dengan the real Asia nya…. kok jadi Malaysia… simak dulu yang berikut, ntar ngeh sendiri.
Israel
Mereka yakin seyakin yakinnya bahwa mereka paling pintar, bahwa mereka adalah bangsa yang dipilih oleh Tuhan sendiri. Landasan psikologis ini menjadikan mereka kokoh dan solid. Walau dulu pernah menjadi bangsa buangan juga, saat menjadi bangsa budak di jaman perbudakan Mesir. Kisah ini bisa dibaca di Alkitab atau mau gampang tonton saja Prince of Egypt atau Mummy.
China
Bangsa Cina adalah bangsa yang sangat tua. Paling menyebar luas di seluruh dunia. Mereka bahkan menyebut diri mereka Cungkuo, bangsa yang berada di pusat peradaban. Mereka adalah bangsa yang sanggup membangun monumen yang bahkan bisa dilihat dari bulan. Melalui dinasti Mongol, bahkan sempat menguasai 3/4 dunia. Bahkan bangsa Eropa saat ini berhutang pada China. Kalau tidak ada kolonialisme/imprealisme Mongol, sekarang mungkin Eropa sudah menjadi Islam semua. Islamisasi Eropa gagal karena serangan Mongol.
India
Negri ini penuh dewa dewi. Salah satu pusat perdaban juga. Bahkan tak kurang 2 agama besar lahir disini. Pengaruh Budaya India bisa dirasakan bahkan sampai sekarang pada kebudayaan kebudayaan disekitarnya. Tibet, Nepal, Asia Tenggara. Eh, iya…. Jayakarta sebagai kata dasar membentuk Jakarta sekarang juga berasal dari bahasa Sansekerta. Di Indonesia, sampai sebutan sebutan dalam dunia militer dan kepolisian banyak yang diadopsi dari bahasa Sansekerta. Misalnya Bhayangkari dan sebagainya.
Jepang
Mereka yakin, mereka keturunan dewa Matahari. Dewa paling besar dalam agama Sinto. Sehingga mereka bisa propaganda di perang dunia kedua sebagai cahaya Asia, pemimpin Asia, saudara tua dan lain sebagainya. Jepang tidak pernah minder dengan kondisi alamnya yang sebenarnya minus. Mereka membuktikan kepada dunia bahwa bangsa keturunan langsung dari dewa Matahari bisa mantab posisinya di peradaban dunia.
Inggris
Mereka punya raja. Mereka masih menjadi negara dengan koloni yang masih berlanjut sampai sekarang. Sebut saja Australia yang belum merdeka sepenuhnya. Atau bahkan Malaysia yang masih dikontrak Inggris. Bisa jadi Inggris adalah penjajah paling berhasil di muka bumi ini.
Amerika Serikat
Mereka adalah bangsa yang pertama kali nginjak bulan. Pernah merasa menjadi Polisi Dunia. Mata uang paling banyak dipakai, walaupun sudah mulai digerogoti Euro. Tetap saja, Amerika Serikat adalah bangsa yang besar. Kalau bicara soal barat, mustahil tidak bicara tentang Amerika Serikat.
Jerman
Sudah bukan rahasia lagi bahwa Jerman pernah merasa sebagai ras paling mulia di muka bumi ini. Saya sudah baca buku Hitler Main Karmf. Benar benar sebuah hiper nasionalisme yang sangat tinggi. Banyak pihak usaha Hitler untuk memusnakan bangsa Israel adalah karena Hitler takut pada kebesaran bangsa Israel. Namun dalam buku tulisannya itu, saya melihat kejijikan luar biasa Hitler pada bangsa Israel yang waktu itu banyak berprofesi sebagai reintenir dan pers di Jerman.
Indonesia
Lalu apa yang kita miliki? Mungkin pertanyaan ini timbul? Gayus? Negara terkorup? Perdagangan wanita paling besar. Bencana paling makan korban di jaman modern. Hanya sebatas batik? tempe?
Kalau pertanyaan itu muncul di benak anda, dugaan saya benar, bangsa ini sudah terlalu lama minder dengan kondisinya. Tapi itu kan usaha untuk get real?
Saya curiga cerita saya berikut ini sangat sedikit yang menyadari. Ah, palingan seperti propaganda Orde Baru tentang kebesaran kerajaan kerajaan nusantara! Semakin besar kecurigaan negatif anda, semakin yakin saya yakin kita memang sedang di posisi minder mindernya.
Tahukah anda, sekali Mongol/Cina dalam usaha menguasai dunianya dipermalukan orang dari Jawa? Tahukah anda mungkin itu satu satunya kegagalan Mongol dalam setiap invasinya ke negara negara di sekitarnya? Benarkah cerita ini bisa dipertanggung jawabkan? Karna jaman itu belum ada TV, baik Metro atau TV One, yah apa boleh buat, kita hanya bisa mendasarkan opini dari teks teks sejarah.
Nah, ceritanya begini:
Raden Wijaya, Orang Jawa Yang Mengkadali Tentra Kubilai Khan
Raden Wijaya, Orang Jawa Yang Mengkadali Tentra Kubilai Khan
Prabu Kertanegara punya cita cita yang persis seperti Gajah Mada, menyatukan Nusantara. Pada saat niat mulianya tersebut ingin dilaksanakan, datang utusan dari Mongol/Cina yang minta Jawa tahluk pada Chung Kuo. Prabu Kertanegara pitam. Utusan Cina itu, si Meng Qi bahkan dirusak wajahnya (potong kuping) dan disuruh menghadap kaizarnya…. “bilang sama rajamu, Singosari tak sudi dijajah Cina!”
Keberanian Kertanegara bukan sembarangan. Dia ketakutan sebenarnya. Bayangkan, Mongol yang sudah menguasai 3/4 dunia. Apalah artinya Jawa yang bisa dikatakan negri selalu becek ini. Oleh karenanya Kertanegara melakukan ekspansi kekuatan ke seluruh nusantara. Khususnya menggalang kekuatan politik di sebelah barat nusantara, ke Melayu, menghabiskan sisa sisa Sriwijaya, Campa dan sebagainya. Gerakan ini dikenal dengan ekspedisi PaMalayu.
Sakig getolnya Prabu Kertanegara melakukan ekspedisi Pa Malayu, dia sampai lupa ada penghianat licik keturunan bangsawan asli dari Kediri, yaitu Jayakatwang. Asal tahu saja, nenek moyang Kertanegara bukan bangsawan. Tapi preman pasar bernama Ken Arok yang berhasil merebut kekuasaaan dari nenek moyang Jayakatwang. Dendam lama ini rupanya tak putus. Jayakatwang memberontak saat tentera Singosari banyak dikirim ke Swarnadwipa - sebutan Sumatera saat itu.
Jayakatwang sukses menobatkan Kertanegara menjadi raja terakhir Singosari. Namun Jayakatwang juga sedikit oon sih…. Dia tidak membabat habis keluarga Kertanegara. Ada menantu Kertanegara yang asli keturunan Ken Arok yang bernama Raden Wijaya yang cuman dibuang ke tanah tarik gersang yang cuman bisa ditanami buah Maja. Dia juga membiarkan ke 4 putri Kertanegara masih bernapas.
Nah…. diam diam, Raden Wijaya dendam. Dia menyusun kekuatan tentaranya sendiri.
Sialnya… Jayakatawang lengah akan kekuasaan barunya. Dari cuman seorang raja bawahan di Kediri, dia sekarang adalah raja diraja Singosari yang sudah berdaulat di hampir separoh Nusantara.
Tak dinyana…. Tentra Mongol datang lagi. Tujuannya ingin menggantung raja Jawa. Pokoknya raja Jawa. Mereka sama sekali tidak tahu sudah terjadi suksesi politik di Jawa. Bukan lagi Kertanegara yang berkuasa. Tapi Jayakatwang. Mereka tidak tahu bukan Jayakatwang yang motong kuping si Meng Qi. Pokoknya gantung raja Jawa. Dengan begitu Jawa tahluk ke Chung Kuo.
Tentu saja Jawa bukan tandingan Mongol. Apalagi kemudian Raden Wijaya yang berani dan cerdik luar biasa merasa ada peluang untuk menjaga kedaulatan Jawa dari raja lemah seperti Jayakatwang.
Raden Wijaya membonceng tentra Mongol yang mencari raja Jawa. Dalam sekejab, pertempuran tak bisa dihindari, dengan hasil yang jelas…. Jawa kalah telak dari Mongol.
Mongol membawa Jayakatwang ke Laut Jawa. Disana raja malang itu digantung. Tentra Mongol kesenangan. Memang tak ada istilah gagal dalam invasi Mongol. Kemanapun mereka masuk, mereka pasti menang. Pokoknya tentara Mongol dimabuk kemenangan. Pesta, mabuk, memperkosa seperti biasa dimana-mana. Bonyok deh wanita wanita Jawa pada waktu itu…
Disaat Raden Wijaya melihat tentara Mongol ini sudah masuk ke fase mabuk kemenangan tak tertolongkan. Dia masuk menyerang dengan kekuatan penuh untuk menghancurkan tentara yang mau menjajah Jawa ini.
Dengan kekuatan yang sebenarnya tak seberapa. Tapi dimenangkan penguasaan wilayah, otak pemimpin yang tak ada duanya. Musuh yang sedang terbuai. Mampuslah tentera tentera Mongol itu. Sekali Lagi Nusantara diselamatkan dari kekuasaan Asing.
Ini kekalahan Mongol paling memalukan sepanjang sejarah.
Raden Wijaya kemudian memproklamasikan Majapahit sebagai kerajaan baru yang berasal langsung dari Singosari. Sebagai upaya pengamanan, Raden Wijaya lantas mengawini ke 4 putri Kertanegara. Kebetulan Kertanegara tidak punya putra. Maka, dialah satu satunya saat itu yang paling berhak menduduki tahtah Jawa.
Puing-puing Menara Romawi (Roman Tower), di Babilon, Kairo, Mesir (Antara/ Ismar Patrizki)
Sejarah tertulis tentang runtuhnya kekaisaran Romawi cukup beragam. Ada yang mengatakan imperium raksasa Eropa itu runtuh karena Kaisar Valens kalah pada pertempuran Adrianople pada tahun 378.
Ada pula yang menganggap kematian Theodosius I, kaisar terakhir, sebagai akhir dari Kekaisaran Romawi yang tunggal. Sebab, sejak saat itu, kekuasaannya dibagi pada dua anaknya, Arcadius dan Honorius.
Tapi sebuah penelitian ilmiah berkata lain. Sejumlah peneliti mempelajari lingkaran pohon untuk menguak dampak ketidakstabilan pola iklim. Temuannya cukup mengejutkan. Sejumlah rahasia masa silam justru terkuak, termasuk runtuhnya Kekaisaran Romawi.
Para peneliti menemukan periode hangat, dan cuaca basah diasosiasikan dengan kesejahteraan. Sementara periode kering, dan kondisi semacamnya selalu terjadi di tengah kekacauan politik, seperti runtuhnya Romawi dan Perang 30 Tahun.
Peneliti merekonstruksikan sejarah iklim musim panas Eropa pada 2.500 tahun silam, dengan menggunakan artefak kayu yang diobservasi. Hasil penelitian mereka didasarkan pada pengukuran lingkaran pohon dari sub-fosil, ornamen arkeologi, dan sampel pohon hidup di wilayah Jerman, Prancis, Italia, dan Austria.
"Peningkatan aktivitas perubahan iklim dalam kurun tahun 250-600 Masehi bertepatan runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat, dan masa gejolak migrasi besar-besaran," kata peneliti dalam website jurnal Science, yang dikutip VIVAnews dari Telegraph, Rabu 19 Januari 2011.
"Masa kering di abad ketiga bertepatan dengan masa krisis dalam tubuh Kekaisaran Romawi Barat, ditandai dengan invasi barbar, kekacauan politik, dan dislokasi ekonomi di beberapa propinsi Gaul," tulis peneliti.
Buntgen, salah satu peneliti, berharap jika temuan ini dapat menjadi peringatan bagi penduduk dunia agar lebih waspada terhadap model perubahan iklim yang bisa mempengaruhi hubungan sosial.
"Hasil kami akan mengingatkan kita semua agar lebih waspada sekaligus menyadarkan kita bahwa peradaban modern tidak imun dari perubahan iklim," kata Buntgen.
yang selalu diperdebatkan, tetapi tidak selalu begitu kontroversial. Eksekusi telah menjadi hukuman akhir dalam masyarakat manusia sejak peradaban dibentuk dan bahkan kesamaan. Cara eksekusi ada yang sangat brutal dan bervariasi, dan di sini adalah 10 cara yang paling kuat, menakutkan, dan eksekusi kekerasan:
Walking the Plank

Cara ini digunakan bajak laut untuk menghukum sandera nya, dilakukan dengan cara berjalan diatas papan, ditodongkan pedang dan akhirnya jatuh ke dalam laut.
Walking the Plank

Cara ini digunakan bajak laut untuk menghukum sandera nya, dilakukan dengan cara berjalan diatas papan, ditodongkan pedang dan akhirnya jatuh ke dalam laut.
Cement Shoes

Gangster modern mengambil cara hukuman ini untuk klien yang tidak mereka sukai, sepatu yang tidak bisa dilepas. Biasa nya mereka menjatuhkan orang yang mereka hukum kedalam air.
Seppuku

Seppuku adalah ritual bunuh diri diamanatkan dalam budaya Jepang yang dilakukan hampir seluruhnya oleh Samurai, sebagai bagian dari kode kehormatan mereka (Bushido). Untuk mencegah diri dari jatuh ke tangan musuh, atau untuk pulih dari tindakan buruk atau memalukan, pemenggalan dilakukan oleh teman dekat.

Gangster modern mengambil cara hukuman ini untuk klien yang tidak mereka sukai, sepatu yang tidak bisa dilepas. Biasa nya mereka menjatuhkan orang yang mereka hukum kedalam air.
Seppuku

Seppuku adalah ritual bunuh diri diamanatkan dalam budaya Jepang yang dilakukan hampir seluruhnya oleh Samurai, sebagai bagian dari kode kehormatan mereka (Bushido). Untuk mencegah diri dari jatuh ke tangan musuh, atau untuk pulih dari tindakan buruk atau memalukan, pemenggalan dilakukan oleh teman dekat.
The Gridiron

Hukuman ini sangat mengerikan, orang tinggal dalam api yang sangat panas dengan tempat tidur batubara. Sebuah eksekusi ketidakpuasan dan mereka yang dianggap khianat, hal ini merupakan cara yang mengerikan untuk mati.

Hukuman ini sangat mengerikan, orang tinggal dalam api yang sangat panas dengan tempat tidur batubara. Sebuah eksekusi ketidakpuasan dan mereka yang dianggap khianat, hal ini merupakan cara yang mengerikan untuk mati.
The Brazen Bull

Banteng yg terbuat dari perunggu Kuningan ini cukup besar, muat untuk orang dewasa. Bahwa pelaku akan ditempatkan di dalam perut binatang itu, dan disegel di dalam. Pemanas akan ditempatkan langsung di bawah banteng hingga korban menjerit dan asap pembakaran akan keluar dari mulut sapi. Ini dramatis, penyiksaan sadis untuk mati.
The Gas Chamber

Gas Chamber ada pada masa Holocaust dalam Perang Dunia II, dan digunakan sebagai alat eksekusi sejak 1924, sampai kasus terakhir pada tahun 1999. Pada akhir abad 20, ruangan seperti ini dilarang sebagai hukuman. Kejam dan tidak biasa, karena beberapa kasus narapidana dapat bertahan hingga 11 menit untuk mati, mempengaruhi masyarakat untuk menolak itu sebagai pilihan.
The Firing Squad

Cara ini bekerja mulai saat ada nya senapan, beberapa orang yg ada sebagai regu tembak bersiap untuk mengeksekusi tahanan. Tetapi hanya akan ada setengah nya yang berisi perluru pada senapan. Semua menembak tetapi hanya sebagian yang terisi.
The Electric Chair

Seperti kamar gas, kursi listrik dianggap sebagai kemajuan manusia, dengan menggunakan kekuatan ilmu untuk membuat suatu alat yang bisa mengeksekusi manusia dengan sekejap. Terkadang orang yang dieksekusi terbakar dan mengeluarkan darah.
Crushing (Pressing)

Eksekusi ini dilakukan dengan cara menggencet korban dengan apapun yang sangat berat, bahkan hingga korban hancur dan akhirnya meninggal. Eksekusi dengan cara ini memang tidak populer, tetapi sangatlah menyeramkan.
Burned at the Stake

Dibakar adalah klise film umum (seperti walking in the plank) yang populer terutama karena kekejaman, dan membutuhkan persiapan yang intensif, seperti potongan kayu secara perlahan ditempatkan di sekitar korban, diikat dengan posisi di tengah. Mati oleh api dikatakan salah satu cara yang sangat menyakitkan, cukup mudah untuk mengetahui bagaimana penyiksaan hingga kematian.
Pada akhir Dinasti Ming (awal abad ke-17) di Fuzhou, ada seorang pria bernama Meng Bo, tinggal di sebuah desa kecil. Dia berkepribadian baik dan berbakti kepada orang tuanya. Bakti Meng Bo pada ibunya sangat diketahui oleh para tetangga. Suatu hari, ibunya yang sudah mulai tua sudah tidak dapat makan daging lagi, karena giginya sudah mulai tidak bisa makan sesuatu yang agak keras. Ini sedikit mengecewakan karena dia suka sekali makan daging.
Meng Bo ingin membantu ibunya agar bisa mengonsumsi daging lezat lagi. Sepanjang malam duduk, memikirkan bagaimana mengolah daging yang bisa dimakan oleh ibunya. Hingga suatu hari, ia melihat tetangganya menumbuk beras ketan untuk dijadikan kue mochi. Melihat hal itu, timbul idenya. Meng Bo langsung pergi ke dapur dan mengolah daging dengan cara yang digunakan tetangganya dalam membuat kue mochi. Setelah daging empuk, Meng Bo membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil sehingga ibunya dapat memakannya dengan mudah. Kemudian ia merebus adonan itu, tercium aroma daging yang lezat.

Meng Bo menyajikan bakso itu kepada ibunya. Sang ibu merasa gembira karena tidak hanya baksonya yang lezat, tapi juga mudah untuk dimakan. Meng Bo sangat senang melihat ibunya dapat makan daging lagi.
Kisah berbaktinya Meng Bo pada ibunya beserta resep baksonya, cepat menyebar ke seluruh kota Fuzhou. Penduduk berdatangan untuk belajar membuat bakso lezat pada Meng Bo.

Jika berbicara Sumatera Barat sepertinya tidak pernah habis dengan cerita rakyat atau urban legend. Sebut saja salah satunya yakni kisah “Siti Nurbaya”.
Langsung saja kerutan dahi kita mengingat peristiwa nikah paksa yang dilakukan seorang pengusaha tamak bernama Datuak Maringgih, terhadap anak Bagindo Sulaiman, Siti Nurbaya.
Padahal Siti telah dijodohkan oleh Syamsul Bahri sejak mereka masih kecil. Namun karena utang terhadap Datuak Maringgih, akhirnya Sulaiman merelakan anak gadisnya untuk dinikahkan pria berusia senja tersebut.
Namun karena cintanya dengan Syamsul Bahri, Siti akhirnya mengakhiri hidupnya dengan memakan lemang beracun. Belakangan Syamsul dan Datuak Maringgih bertemu di medan perang dan akhirnya keduanya meninggal dunia.
Iya sepenggal cerita bersejarah ini menjadi populer sekira 1980-an. Saat itu televisi nasional di Indonesia memfilmkan buku yang ditulis oleh seorang sastrawan bernama Marah Rusli pada 1922 lalu.
Cetakan dari Balai Pusataka ini pun menjadi kisah “Romeo dan Juliet” versi Sumatera Barat yang tak lekang oleh zaman. Bahkan salah satu band ternama di Indonesia membuat lagu berjudul “Siti Nurbaya.”
Legenda ini memang menjadi cerita bersejarah tidak hanya bagi warga yang terkenal Jam Gadang itu, namun cerita ini sudah menjadi dongeng rakyat Indonesia.
Namun apakah Anda tidak penasaran dengan kebenaran legenda itu? Benarkah cerita itu dalam kenyataan atau hanya memang menjadi cerita semata.
Beberapa waktu lalu okezone mencoba penelusuran mengenai cerita rakyat tersebut. Penulis pun mendapat kabar adanya makam “Siti Nurbaya” berada di Gunung Padang.
Tanpa menunggu waktu, penulis pun memulai perjalanan ke gunung yang berjarak sekira dua kilometer dari pusat kota. Membutuhkan waktu sekira 15 menit dengan mengendarai motor penulis bisa mencapai kaki Gunung Padang.
Penulis tidak perlu mengeluarkan uang untuk mencapai bukit setinggi 400 meter tersebut. Karena memang Pemerintah Provinsi tidak menyediakan loket penjualan karcis untuk memasuki gerbang “dahulu kala” itu.
Kaki penulis pun seakan tak lelah melintasi jalan setapak selebar satu meter itu. Bayangan akan sejarah tak ternilai itu pun melecut penulis untuk terus mencapai makam tersebut.
Setelah berjalan selama 30 menit, penulis pun menemukan pondok peristirahatan. Napas penulis yang mulai “kembang kempis” pun mencoba di normalkan sembari menyelonjorkan kaki yang sudah keras akibat jalan menanjak.
Namun jangan khawatir, perjalan menuju jalan ini mata penulis seakan dimanjakan dengan pemandangan Kota Padang. Indahnya kota Gadang itu dan semilir angin, membuat badan penulis kembali bangkit.
Beberapa menit setelah istirahat, penulis pun kembali melanjutkan perjalanan menuju makam kekasih Syamsul Bahir itu. Jalan setapak yang berliku dan menanjak itu tidak menyurutkan penulis untuk melangkahkan kaki.
Di jalan ini penulis harus ekstra hati-hati. Pasalnya, tangga dibuat oleh pemerintah sudah berlumut dan licin. Sebelum mencapai makam Siti Nurbaya, penulis dihadapkan dengan persimpangan jalan.
Jika penulis mengambil jalan lurus, maka akan mencapai Gunung Padang. Dan kalau mengambil arah kanan akan menemukan makam Siti Nurbaya. Penulis pun mengambil jalan ke arah itu.
Sampai di sini, penulis pun harus menempuh perjalanan menunduk dan turun sejauh 5 meter. Tak berapa lama, penulis akhirnya menemukan sebuah kuburan yang diselimuti kelambu putih.
Makam yang terbuat dari sebagian besar semen tersebut, terlihat indah dengan latar belakang pemandangan turunnya matahari atau sun set. Sayangnya nisan dari semen tersebut tidak terlihat jelas nama jasada yang dimakamkan.
Warga sekitar menyakini makam tersebut sebagai makam Siti Nurbaya. Kuburan yang terlihat sedikit kusam itu tampak diapik dua buah batu. Bahkan dalam kondisi tertentu makam ini banyak didatangi warga.
Syahbudin Abas (43), warga sekitar, belum terlalu yakin bahwa makam tersebut adalah makam istri kesekian Datuak Maringgih. Namun dia mengakui berdasarkan cerita warga sekitar makam itu adalah Siti Nurbaya
Langsung saja kerutan dahi kita mengingat peristiwa nikah paksa yang dilakukan seorang pengusaha tamak bernama Datuak Maringgih, terhadap anak Bagindo Sulaiman, Siti Nurbaya.
Padahal Siti telah dijodohkan oleh Syamsul Bahri sejak mereka masih kecil. Namun karena utang terhadap Datuak Maringgih, akhirnya Sulaiman merelakan anak gadisnya untuk dinikahkan pria berusia senja tersebut.
Namun karena cintanya dengan Syamsul Bahri, Siti akhirnya mengakhiri hidupnya dengan memakan lemang beracun. Belakangan Syamsul dan Datuak Maringgih bertemu di medan perang dan akhirnya keduanya meninggal dunia.
Iya sepenggal cerita bersejarah ini menjadi populer sekira 1980-an. Saat itu televisi nasional di Indonesia memfilmkan buku yang ditulis oleh seorang sastrawan bernama Marah Rusli pada 1922 lalu.
Cetakan dari Balai Pusataka ini pun menjadi kisah “Romeo dan Juliet” versi Sumatera Barat yang tak lekang oleh zaman. Bahkan salah satu band ternama di Indonesia membuat lagu berjudul “Siti Nurbaya.”
Legenda ini memang menjadi cerita bersejarah tidak hanya bagi warga yang terkenal Jam Gadang itu, namun cerita ini sudah menjadi dongeng rakyat Indonesia.
Namun apakah Anda tidak penasaran dengan kebenaran legenda itu? Benarkah cerita itu dalam kenyataan atau hanya memang menjadi cerita semata.
Beberapa waktu lalu okezone mencoba penelusuran mengenai cerita rakyat tersebut. Penulis pun mendapat kabar adanya makam “Siti Nurbaya” berada di Gunung Padang.
Tanpa menunggu waktu, penulis pun memulai perjalanan ke gunung yang berjarak sekira dua kilometer dari pusat kota. Membutuhkan waktu sekira 15 menit dengan mengendarai motor penulis bisa mencapai kaki Gunung Padang.
Penulis tidak perlu mengeluarkan uang untuk mencapai bukit setinggi 400 meter tersebut. Karena memang Pemerintah Provinsi tidak menyediakan loket penjualan karcis untuk memasuki gerbang “dahulu kala” itu.
Kaki penulis pun seakan tak lelah melintasi jalan setapak selebar satu meter itu. Bayangan akan sejarah tak ternilai itu pun melecut penulis untuk terus mencapai makam tersebut.
Setelah berjalan selama 30 menit, penulis pun menemukan pondok peristirahatan. Napas penulis yang mulai “kembang kempis” pun mencoba di normalkan sembari menyelonjorkan kaki yang sudah keras akibat jalan menanjak.
Namun jangan khawatir, perjalan menuju jalan ini mata penulis seakan dimanjakan dengan pemandangan Kota Padang. Indahnya kota Gadang itu dan semilir angin, membuat badan penulis kembali bangkit.
Beberapa menit setelah istirahat, penulis pun kembali melanjutkan perjalanan menuju makam kekasih Syamsul Bahir itu. Jalan setapak yang berliku dan menanjak itu tidak menyurutkan penulis untuk melangkahkan kaki.
Di jalan ini penulis harus ekstra hati-hati. Pasalnya, tangga dibuat oleh pemerintah sudah berlumut dan licin. Sebelum mencapai makam Siti Nurbaya, penulis dihadapkan dengan persimpangan jalan.
Jika penulis mengambil jalan lurus, maka akan mencapai Gunung Padang. Dan kalau mengambil arah kanan akan menemukan makam Siti Nurbaya. Penulis pun mengambil jalan ke arah itu.
Sampai di sini, penulis pun harus menempuh perjalanan menunduk dan turun sejauh 5 meter. Tak berapa lama, penulis akhirnya menemukan sebuah kuburan yang diselimuti kelambu putih.
Makam yang terbuat dari sebagian besar semen tersebut, terlihat indah dengan latar belakang pemandangan turunnya matahari atau sun set. Sayangnya nisan dari semen tersebut tidak terlihat jelas nama jasada yang dimakamkan.
Warga sekitar menyakini makam tersebut sebagai makam Siti Nurbaya. Kuburan yang terlihat sedikit kusam itu tampak diapik dua buah batu. Bahkan dalam kondisi tertentu makam ini banyak didatangi warga.
Syahbudin Abas (43), warga sekitar, belum terlalu yakin bahwa makam tersebut adalah makam istri kesekian Datuak Maringgih. Namun dia mengakui berdasarkan cerita warga sekitar makam itu adalah Siti Nurbaya

Salam hangat selalu buat sobat pujangga blog sekarang saya akan tulis artikel tentang pemukiman kuno tertinggi di dunia, berbicara tentang yang kuno-kuno seperti uang kuno, kerajaan mataram kuno, sepeda kuno, koin kuno, mobil kuno, mesir kuno dan banyak lagi yang lain. seperti yang ingin saya tulis Pemukiman kuno tertinggi di dunia. Pemukiman tertua di dunia yang berada di ketinggian ditemukan di Papua New Guinea. Masyarakat kuno tersebut diperkirakan hidup 49 ribu tahun lalu.
Ilmuwan dari University of Queensland berhasil menggali sisa perangkat di enam perkemahan berupa alat batu, sisa pembakaran dan makanan di wilayah Kokoda, ujar salah satu anggota tim, Andrew Fairbairn.
“Ini tidak seperti desa atau apapun. Wilayah ini digunakan sebagai perkemahan dan sering digunakan.” Fairbairn mengatakan bahwa tempat itu berada di ketinggian 2 ribu meter dan dipercaya sebagai bukti tertua dari lingkungan manusia kuno, homo sapines di ketinggian.
Penemuan dengan ketinggian hampir mirip ditemukan di Tibet berasal dari 30 ribu tahun lalu. Ada juga yang berada di dataran tinggi Ethiopia dengan tipe umur yang hampir sama. Fairbairn mengatakan bahwa dirinya kaget atas penemuan yang menggunakan proses penanggalan karbon tersebut.
Ini dikarenakan adanya kemungkinan manusia hidup di lingkungan sangat dingin, lembab dan sangat tidak kondusif di masa puncak Zaman Es. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Science ini menunjukkan bahwa makhluk prasejarah dataran tinggi Papua New Guine di lembah Ivane tersebut membuat alat batu, memburu binatang kecil dan makan ubi dan kacang-kacangan.
Tapi mengapa mereka memilih tinggal di kondisi yang keras di dataran tinggi dengan suhu berada di bawah titik beku masih menjadi misteri. "Pegunungan Papua New Guinea telah lama memberikan kejutan bagi komunitas ilmiah. Tidak hanya itu, mungkin mereka adalah homo sapiens pendaki gunung paling awal," kata Fairbairn.
CORNELIS de Houtman (lahir di Gouda, Belanda, 2 April 1565 – Tewas di Aceh, 1599), adalah seorang penjelajah Belanda yang menemukan jalur pelayaran dari Eropa ke Nusantara dan berhasil memulai perdagangan rempah-rempah bagi Belanda. Saat kedatangan de Houtman, Kerajaan Portugis telah lebih dahulu memonopoli jalur-jalur perdagangan di Nusantara. Meski ekspedisi de Houtman banyak memakan korban jiwa di pihaknya dan bisa dikatakan gagal, namun ekspedisi de Houtman yang pertama ini merupakan kemenangan simbolis bagi pihak Belanda karena sejak saat itu kapal-kapal lainnya mulai berlayar untuk berdagang ke Timur.
Awal perjalanan
Pada tahun 1592 Cornelis de Houtman dikirim oleh para saudagar Amsterdam ke Lisboa/Lisbon, Portugal untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai keberadaan "Kepulauan Rempah-Rempah". Pada saat de Houtman kembali ke Amsterdam, penjelajah Belanda lainnya, Jan Huygen van Linschoten juga kembali dari India. Setelah mendapatkan informasi, para saudagar tersebut menyimpulkan bahwa Banten merupakan tempat yang paling tepat untuk membeli rempah-rempah. Pada 1594, mereka mendirikan perseroan Compagnie van Verre (yang berarti "Perusahaan jarak jauh"), dan pada 2 April 1595 berangkatlah ekspedisi perseroan ini di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Tercatat ada empat buah kapal yang ikut dalam ekspedisi mencari “Kepulauan Rempah-rempah” ini yaitu: Amsterdam, Hollandia, Mauritius dan Duyfken.
Ekspedisi de Houtman sudah direcoki banyak masalah sejak awal. Penyakit sariawan merebak hanya beberapa minggu setelah pelayaran dimulai akibat kurangnya makanan. Pertengkaran di antara para kapten kapal dan para pedagang menyebabkan beberapa orang terbunuh atau dipenjara di atas kapal. Di Madagaskar, di mana sebuah perhentian sesaat direncanakan, masalah lebih lanjut menyebabkan kematian lagi, dan kapal-kapalnya bertahan di sana selama enam bulan. (Teluk di Madagaskar tempat mereka berhenti kini dikenal sebagai "Kuburan Belanda").
Tiba di Tanah Jawa
Pada 27 Juni 1596, ekspedisi de Houtman tiba di Banten. Hanya 249 orang yang tersisa dari pelayaran awal. Penerimaan penduduk awalnya bersahabat, tapi setelah beberapa perilaku kasar yang ditunjukkan awak kapal Belanda, Sultan Banten, bersama dengan orang-orang Portugis yang telah datang lebih dulu di Banten, mengusir rombongan “Wong Londo” ini.
Ekspedisi de Houtman berlanjut ke utara pantai Jawa. Namun kali ini, kapalnya takluk ke pembajak. Saat tiba di Madura perilaku buruk rombongan ini berujung ke salah pengertian dan kekerasan: seorang pangeran di Madura terbunuh sehingga beberapa awak kapal Belanda ditangkap dan ditahan sehingga de Houtman membayar denda untuk melepaskannya. Kapal-kapal tersebut lalu berlayar ke Bali, dan bertemu dengan raja Bali. Mereka akhirnya berhasil memperoleh beberapa pot merica pada 26 Februari 1597.
Saat dalam perjalanan pulang ke Belanda, mereka singgah di Kepulauan St. Helena, dekat Angola untuk mengisi persediaan air dan bahan-bahan lainnya. Kedatangan mereka ini dihadang oleh kapal-kapal Portugis yang merupakan pesaing mereka.
Akhirnya pada akhir 1597, tiga dari empat kapal ekspedisi ini kembali dengan selamat ke Belanda. Dari 249 awak, hanya 87 yang berhasil kembali.
Akibat dari ekspedisi de Houtman
Meski perjalanan ini bisa dibilang gagal, namun juga dapat dianggap sebagai kemenangan bagi Belanda. Pihak Belanda sejak saat itu mulai berani berlayar untuk berdagang ke Timur terutama di tanah Nusantara. Beberapa ekspedisi memang mengalami kegagalan, sementara lainnya sukses gilang-gemilang dengan keuntungan berlimpah-limpah dari total modal ekspedisi yang dikeluarkan.
Totalnya dalam rentang waktu antara 1598 dan 1601 ada 15 ekspedisi dikirim ke Nusantara, yang melibatkan 65 kapal. Sebelum Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) didirikan pada 1602, tercatat 12 perusahaan telah melakukan ekspedisi ke Nusantara dalam masa 7 tahun, yakni: Compagnie van Verre (Perusahaan dari Jauh), De Nieuwe Compagnie (Perusahaan Baru), De Oude Compagnie (Perusahaan Lama), De Nieuwe Brabantse Compagnie (Perusahaan Brabant Baru), De Verenigde Compagnie Amsterdam (Perhimpunan Perusahaan Amsterdam), De Magelaanse Compagnie (Perusahaan Magelan), De Rotterdamse Compagnie (Perusahaan Rotterdam), De Compagnie van De Moucheron (Perusahaan De Moucheron), De Delftse Vennootschap (Perseroan Delft), De Veerse Compagnie (Perusahaan De Veer), De Middelburgse Compagnie (Perusahaan Middelburg) dan De Verenigde Zeeuwse Compagnie (Perhimpunan Perusahaan Kota Zeeuw).
Kedatangan kapal-kapal inilah yang menjadi cikal bakal penjajahan Belanda atas tanah Nusantara.

Tewas di Aceh
Tahun 1598, Cornelis de Houtman bersama saudaranya Frederick de Houtman diutus lagi ke tanah Nusantara di mana kali ini ekspedisinya merupakan ekspedisi dalam jumlah besar. Armada-armadanya telah dipersenjatai seperti kapal perang.
Pada 1599, dua buah kapal pimpinan de Houtman yang bernama de Leeuw dan de Leeuwin berlabuh di ibukota Kerajaan Aceh. Pada awalnya kedua kapal ini mendapat sambutan baik dari pihak Aceh karena darinya diharapkan akan dapat dibangun kerjasama perdagangan yang saling menguntungkan. Dengan kedatangan Belanda tersebut berarti Aceh akan dapat menjual hasil-hasil bumi, khususnya lada kepada Belanda.
Namun dalam perkembangannya, akibat adanya hasutan dari pihak Portugis yang telah lebih dahulu berdagang dengan Kerajaan Aceh, Sultan Aceh menjadi tidak senang dengan kehadiran Belanda dan memerintahkan untuk menyerang kapal-kapal mereka. Pemimpin penyerangan adalah Laksamana Keumala Hayati. Dalam penyerangan ini, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya tewas sementara Frederick de Houtman ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Frederick de Houtman mendekam dalam tahanan Kerajaan Aceh selama 2 tahun. Selama di penjara, ia menulis buku berupa kamus Melayu-Belanda yang merupakan kamus Melayu-Belanda pertama dan tertua di Nusantara.
Udah pernah ada yg posting ini belum ya?? kalo uda ada, maaf ya, soalx td aq search "hasilnya no result"
Klo belum, sedot aja nih gan info ga' penting di bawah ini:
Harajuku
Harajuku sebenarnya adalah sebutan populer untuk kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo. Kawasan ini terkenal sebagai tempat anak-anak muda berkumpul. Lokasinya mencakup sekitar Meiji Jingu, Taman Yoyogi, pusat perbelanjaan Jalan Takeshita (Takeshita-dori), departement store Laforet, dan Gimnasium Nasional Yoyogi. Harajuku bukan sebutan resmi untuk nama tempat, dan tidak dicantumkan sewaktu menulis alamat.
Sekitar tahun 1980-an, Harajuku merupakan tempat berkembangnya subkultur Takenoko-zoku. Sampai hari ini, kelompok anak muda berpakaian aneh bisa dijumpai di kawasan Harajuku. Selain itu, anak-anak sekolah dari berbagai pelosok di Jepang sering memasukkan Harajuku sebagai tujuan studi wisata sewaktu berkunjung ke Tokyo.
Sebetulnya sebutan "Harajuku" hanya digunakan untuk kawasan di sebelah utara Omotesando. Onden adalah nama kawasan di sebelah selatan Omotesando, namun nama tersebut tidak populer dan ikut disebut Harajuku.
Sejarah
Sebelum zaman Edo, Harajuku merupakan salah satu kota penginapan (juku) bagi orang yang bepergian melalui rute Jalan Utama Kamakura. Tokugawa Ieyasu menghadiahkan penguasaan Harajuku kepada ninja dari Provinsi Iga yang membantunya melarikan diri dari Sakai setelah terjadi Insiden Honnōji.
Di zaman Edo, kelompok ninja dari Iga mendirikan markas di Harajuku untuk melindungi kota Edo karena letaknya yang strategis di bagian selatan Jalan Utama Kōshū. Selain ninja, samurai kelas Bakushin juga memilih untuk bertempat tinggal di Harajuku. Petani menanam padi di daerah tepi Sungai Shibuya, dan menggunakan kincir air untuk menggiling padi atau membuat tepung.
Di zaman Meiji, Harajuku dibangun sebagai kawasan penting yang menghubungkan kota Tokyo dengan wilayah sekelilingnya. Pada tahun 1906, Stasiun JR Harajuku dibuka sebagai bagian dari perluasan jalur kereta api Yamanote. Setelah itu, Omotesando (jalan utama ke kuil) dibangun pada tahun 1919 setelah Kuil Meiji didirikan.
Setelah dibukanya berbagai department store pada tahun 1970-an, Harajuku menjadi pusat busana. Kawasan ini menjadi terkenal di seluruh Jepang setelah diliput majalah fesyen seperti Anan dan non-no. Pada waktu itu, kelompok gadis-gadis yang disebut Annon-zoku sering dijumpai berjalan-jalan di kawasan Harajuku. Gaya busana mereka meniru busana yang dikenakan model majalah Anan dan non-no.
Sekitar tahun 1980-an, Jalan Takeshita menjadi ramai karena orang ingin melihat Takenoko-zoku yang berdandan aneh dan menari di jalanan. Setelah ditetapkan sebagai kawasan khusus pejalan kaki, Harajuku menjadi tempat berkumpul favorit anak-anak muda. Setelah Harajuku makin ramai, butik yang menjual barang dari merek-merek terkenal mulai bermunculan di Omotesando sekitar tahun 1990-an.
So, kira-kira seperti itulah sejarah Harajuku, yang masih bertahan hingga sekarang sebagai sebuah mode bagi anak muda Jepang, khususnya di Tokyo. Harajuku, sebuah kawasan kecil di daerah Onden, yang akhirnya tumbuh menjadi pusat berkembangnya mode, yang booming pada tahun 80-an.
Sisa-sisa tentara 50.000-kuat legendaris yang ditelan dalam bencana badai pasir di Gurun Sahara 2.500 tahun yang lalu yang diyakini telah ditemukan.

Arkeolog Italia Angelo dan Alfredo Castiglioni, saudara kembar, telah menemukan senjata perunggu dan ratusan tulang manusia yang mereka rasa adalah sisa-sisa tentara yang hilang dari Raja Persia Cambyses II.
Menurut sejarawan Yunani Herodotus (484-425 SM), Cambyses, putra Cyrus Agung, mengirim tentara dari Thebes untuk menyerang Oasis Siwa di 525BC.
Misi mereka adalah untuk menghancurkan oracle di Kuil Amun setelah imam di sana menolak untuk melegitimasi klaimnya ke Mesir.




Oracle adalah tempat di mana nasihat ilahi atau nubuat dicari dan Mesir kuno menahan mereka untuk menjadi manifestasi dari para dewa yang bisa melihat ke masa depan. Mereka sering berkonsultasi sebelum keputusan besar.
Dua abad setelah tentara menghilang, Alexander Agung berziarah sendiri ada di 332BC sebelum ia mulai penaklukannya Persia. Sejarawan-Nya menyatakan bahwa "pintar kemudian dikonfirmasi ia adalah putra ilahi Zeus, dewa Yunani disamakan dengan Amun, dan sah firaun Mesir.
THE FLYING DUTCHMAN

Sekedar untuk share tentang banyak legenda para pelaut. Salah satu yang terkenal adalah Flying Dutchman, kapal hantu yang kerap kita liat di film Pirates Of karibian, atau sosok hantu bajak laut yang pada beberapa episode muncul di tayangan kartun Spongebob. Benar sekali, itulah The Flying Dutchman .
Legenda itu bermula atas sebuah kapal yang dinahkodai seorang pelaut handal dan tangguh bernama Hendrik Vanderdecken. Pelaut asal belanda yang telah berlayar mengarungi lautan ganas dari Amsterdam ke Batavia, kemudian merapat di Timur Belanda pada 1680. Meski diperintahkan oleh perusahaan perdagangan untuk berlayar dengan kapal perusahaan dan membawa pulang muatan penuh. Hendrik yang tamak merasa yakin bisa memuat cukup banyak barang curian untuk memperkaya dirinya sendiri, sehingga kapal berlayar dengan memuat beban lebih banyak dari kemampuannya.
Ketika itu dalam pelayaran ditengah laut. Badai tropis menerpa kapal Hendrik Vandedecken, dan legenda mengisahkan bahwa ia tetap memaksakan kapalnya untuk berlayar. Padahal jalan teraman dalam kondisi seperti itu tentunya menunggu badai reda. Tetapi dorongan iblis pada mimpinya dimalam hari membuatnya memutuskan untuk tetap menerobos badai dan berputar diseputar Cape serta mengabaikan peringatan Tuhan tersebut. Kapalnyapun karam dengan turut serta menengelamkan harta-harta tersebut.
Alkisah karena kesalahannya itu, Vandedecken dikutuk menahkodai kapalnya hingga akhir zaman.
Legenda itu sangat menarik memang. Lebih menarik ketika puluhan tahun kemudian, tepatnya 1835, kapten dan awak kapal inggris melihat kapal hantu itu mendekati mereka ditengah badai topan. Namun kapal itu menghilang setelah kemunculannya yang sesaat tersebut.
1881, pelaut dikapal perang Inggris H.M.S. Bacchante terjatuh dari sisi kapal dihari setelah awak kapal lainnya melihat kapal hantu tersebut.
Pemunculan yang terkini dan disaksikan oleh banyak orang terjadi pada maret 1939, di Glencairn Beach, Afrika Selatan. Setelah sehari kemunculan kapal hantu ditempat itu, surat kabar memberitakan para perenang yang ada ditempat kejadian mencermati kapal megah tersebut, dan membahasnya secara rinci serta memperhatikan bahwa kapal itu berjalan sepenuh tenaga dengan kecepatan mantap, meski tak ada angin bertiup saat itu.
Beberpa ilmuan menerangkan bahwa itu hanya fatamorgana. Namun para saksi itu protes karena bagi mereka sulit membayangkan sebuah kapal laut abad ke-17 secara begitu terperinci dengan tepat, karena tidak seorangpun dari mereka pernah melihat kapal abad ke-17 sebelumnya.
Namun satu hal yang lebih membuat saya tertarik dari legenda ini adalah harta yang turut dibawa serta Hendrik Vandedecken. Bisa dibayangkan jika kita melakukan ekpedisi besar, ya, tarohlah ada dua pilihan, kita menyelam mencari kapalnya yang tenggelam didasar laut atau mencari kapal hantu tersebut yang tengah muncul ditengah badai dan masuk kedalam kapal abad ke-17 tersebut. Saat keluar kita akan membawa tumpukan harta yang ada didalam lambung kapal megah abad ke 17 itu. ha-ha-ha Tentunya posisi Abu Rizal Bakrie sebagai orang terkaya itu akan tergeser oleh saya hahaha.

Sekedar untuk share tentang banyak legenda para pelaut. Salah satu yang terkenal adalah Flying Dutchman, kapal hantu yang kerap kita liat di film Pirates Of karibian, atau sosok hantu bajak laut yang pada beberapa episode muncul di tayangan kartun Spongebob. Benar sekali, itulah The Flying Dutchman .
Legenda itu bermula atas sebuah kapal yang dinahkodai seorang pelaut handal dan tangguh bernama Hendrik Vanderdecken. Pelaut asal belanda yang telah berlayar mengarungi lautan ganas dari Amsterdam ke Batavia, kemudian merapat di Timur Belanda pada 1680. Meski diperintahkan oleh perusahaan perdagangan untuk berlayar dengan kapal perusahaan dan membawa pulang muatan penuh. Hendrik yang tamak merasa yakin bisa memuat cukup banyak barang curian untuk memperkaya dirinya sendiri, sehingga kapal berlayar dengan memuat beban lebih banyak dari kemampuannya.
Ketika itu dalam pelayaran ditengah laut. Badai tropis menerpa kapal Hendrik Vandedecken, dan legenda mengisahkan bahwa ia tetap memaksakan kapalnya untuk berlayar. Padahal jalan teraman dalam kondisi seperti itu tentunya menunggu badai reda. Tetapi dorongan iblis pada mimpinya dimalam hari membuatnya memutuskan untuk tetap menerobos badai dan berputar diseputar Cape serta mengabaikan peringatan Tuhan tersebut. Kapalnyapun karam dengan turut serta menengelamkan harta-harta tersebut.
Alkisah karena kesalahannya itu, Vandedecken dikutuk menahkodai kapalnya hingga akhir zaman.
Legenda itu sangat menarik memang. Lebih menarik ketika puluhan tahun kemudian, tepatnya 1835, kapten dan awak kapal inggris melihat kapal hantu itu mendekati mereka ditengah badai topan. Namun kapal itu menghilang setelah kemunculannya yang sesaat tersebut.
1881, pelaut dikapal perang Inggris H.M.S. Bacchante terjatuh dari sisi kapal dihari setelah awak kapal lainnya melihat kapal hantu tersebut.
Pemunculan yang terkini dan disaksikan oleh banyak orang terjadi pada maret 1939, di Glencairn Beach, Afrika Selatan. Setelah sehari kemunculan kapal hantu ditempat itu, surat kabar memberitakan para perenang yang ada ditempat kejadian mencermati kapal megah tersebut, dan membahasnya secara rinci serta memperhatikan bahwa kapal itu berjalan sepenuh tenaga dengan kecepatan mantap, meski tak ada angin bertiup saat itu.
Beberpa ilmuan menerangkan bahwa itu hanya fatamorgana. Namun para saksi itu protes karena bagi mereka sulit membayangkan sebuah kapal laut abad ke-17 secara begitu terperinci dengan tepat, karena tidak seorangpun dari mereka pernah melihat kapal abad ke-17 sebelumnya.
Namun satu hal yang lebih membuat saya tertarik dari legenda ini adalah harta yang turut dibawa serta Hendrik Vandedecken. Bisa dibayangkan jika kita melakukan ekpedisi besar, ya, tarohlah ada dua pilihan, kita menyelam mencari kapalnya yang tenggelam didasar laut atau mencari kapal hantu tersebut yang tengah muncul ditengah badai dan masuk kedalam kapal abad ke-17 tersebut. Saat keluar kita akan membawa tumpukan harta yang ada didalam lambung kapal megah abad ke 17 itu. ha-ha-ha Tentunya posisi Abu Rizal Bakrie sebagai orang terkaya itu akan tergeser oleh saya hahaha.

Beberapa versi pengamat sejarah mengatakan bahwa sebenarnya asal muasal lambang bulan bintang berasal dari lambang khilafah Islamiyah terakhir yang dimiliki umat Islam, yaitu Khilafah Turki Utsmani.
Khilafah ini adalah warisan terakhir kejayaan umat Islam. Memiliki luas wilayah yang membentang dari ujung barat sampai ujung timur dunia. Wilayahnya mencakup tiga benua besar dunia, Afrika-Eropa dan Asia. Ibukotanya adalah kota yang sejak 1400 tahun yang lalu telah dijanjikan oleh
Rasulullah SAW sebagai kota yang akan jatuh ke tangan umat Islam.
Rasulullah bersabda, “Qonstantinopel akan kalian bebaskan. Pasukan yang mampu membebaskannya adalah pasukan yang sangat kuat. Dan panglima yang membebaskannya adalah panglima yang sangat kuat..”
Berabad-abad lamanya umat Islam memimpikan realisasi kabar gembira Rasulullah itu. Namun sejak zaman Khilafah Rasyidah, Khilafah Bani Umayah hingga Khilafah Bani Abbasiyah, kabar gembira itu tidak pernah juga terealisasi. Memang sebagian Eropa sudah jatuh ke tangan Islam, yaitu wilayah Spanyol dengan kota-kotanya antara lain: Cordova, Seville, Granda dan seterusnya. Namun jantung Eropa belum pernah jatuh secara serius ke tangan Islam. Barulah ketika Sultan Muhammad II yang lebih dikenal dengan Sultan Muhammad Al-Fatih menjadi panglima, jatuhlah kota yang pernah menjadi ibu kota Eropa itu. Lewat pertempuran yang sangat dahsyat dengan menggunakan senjata paling modern di kala itu, yaitu CANON
atau meriam yang sangat besar dan suaranya *****akkan telinga, Muhammad Al-Fatih berhasil menjatuhkan kota konstantininopel itu dan menjadikannya sebagai ibu kota Khilafah Turki Utsmani. Serta menjadikannya pusat peradaban Islam.
Wilayahnya adalah tiga benua dengan semua peradaban yang ada di dalamnya. Saat itu bulan sabit digunakan untuk melambangkan posisi tiga benua itu. Ujung yang satu menunjukkan benua Asia yang ada di Timur, ujung lainnya mewakili Afrika yang ada di bagian lain dan di tengahnya adalah
Benua Eropa. Sedangkan lambang bintang menunjukkan posisi ibu kota yang kemudian diberi nama Istambul yang bermakna: Kota Islam.
Bendera bulan sabit ini adalah bendera resmi umat Islam saat itu, karena seluruh wilayah dunia Islam berada di bahwa satu naungan khilafah Islamiyah. Tidak seperti sekarang ini yang terpecah-pecah menjadi sekian ratus negara yang berdiri sendiri hasil dari jajahan barat.
Wajar kalau lambang itu begitu melekat di hati umat dari ujung barat Maroko sampai ujung Timur Marauke.
Inilah lambang yang pernah dimiliki oleh umat Islam secara bersama, bulan dan bintang. Dan lambang ini kemudian seolah menjadi lambang resmi umat Islam dan selalu muncul di kubah-kubah masjid.
Dan kalau kita perhatikan, nyaris hampir semua kubah masjid di berbagai belahan dunia punya lambang ini. Dan banyak institusi umat Islam yang juga memakai lambang ini, misalnya Masyumi di masa lalu. Bahkan di zaman reformasi, di Indonesia muncul Partai Bulan Bintang yang lambangnya
bulan bintang. Wallahu a`lam bish-shawab,

Kisah ini menceritakan konflik hebat keturunan Pandu dan Dristarasta dalam memperebutkan takhta kerajaan. Menurut sumber yang saya dapatkan, epos ini ditulis pada tahun 1500 SM. Namun fakta sejarah yang dicatat dalam buku tersebut masanya juga lebih awal 2.000 tahun dibanding penyelesaian bukunya. Artinya peristiwa yang dicatat dalam buku ini diperkirakan terjadi pada masa ±5000 tahun yang silam.
Buku ini telah mencatat kehidupan dua saudara sepupu yakni Kurawa dan Pandawa yang hidup di tepian sungai Gangga meskipun akhirnya berperang di Kurukshetra. Namun yang membuat orang tidak habis berpikir adalah kenapa perang pada masa itu begitu dahsyat? Padahal jika dengan menggunakan teknologi perang tradisional, tidak mungkin bisa memiliki kekuatan yang sebegitu besarnya.
Spekulasi baru dengan berani menyebutkan perang yang dilukiskan tersebut, kemungkinan adalah semacam perang nuklir! Perang pertama kali dalam buku catatan dilukiskan seperti berikut ini: bahwa Arjuna yang gagah berani, duduk dalam Weimana (sarana terbang yang mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh. seperti hujan lebat yang kencang, mengepungi musuh, dan kekuatannya sangat dahsyat.
Dalam sekejap, sebuah bayangan yang tebal dengan cepat terbentuk di atas wilayah Pandawa, angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan menjadi tidak berfungsi, kemudian badai angin yang dahsyat mulai bertiup wuuus..wuuus.. disertai dengan debu pasir. Burung-burung bercicit panik seolah-olah langit runtuh, bumi merekah. Matahari seolah-olah bergoyang di angkasa, panas membara yang mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang, di kawasan darat yang luas, binatang-binatang mati terbakar dan berubah bentuk, air sungai kering kerontang, ikan udang dan lainnya semuanya mati. Saat roket meledak, suaranya bagaikan halilintar, membuat prajurit musuh terbakar bagaikan batang pohon yang terbakar hangus.
Jika akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna bagaikan sebuah badai api, maka akibat serangan yang diciptakan oleh bangsa Alengka juga merupakan sebuah ledakan nuklir dan racun debu radioaktif.
Gambaran yang dilukiskan pada perang dunia ke-2 antara Rama dan Rahwana lebih membuat orang berdiri bulu romanya dan merasa ngeri: pasukan Alengka menumpangi kendaraan yang cepat, meluncurkan sebuah rudal yang ditujukan ke ketiga kota pihak musuh. Rudal ini seperti mempunyai segenap kekuatan alam semesta, terangnya seperti terang puluhan matahari, kembang api bertebaran naik ke angkasa, sangat indah. Mayat yang terbakar, sehingga tidak bisa dibedakan, bulu rambut dan kuku rontok terkelupas, barang-barang porselen retak, burung yang terbang terbakar gosong oleh suhu tinggi. Demi untuk menghindari kematian, para prajurit terjun ke sungai membersihkan diri dan senjatanya.
Banyak spekulasi bermunculan dari peristiwa ini, diantaranya ada sebuah spekulasi baru dengan berani menyebutkan bahwa perang Mahabarata adalah semacam perang NUKLIR!!
Tapi, benarkah demikian yang terjadi sebenarnya? Mungkinkah jauh sebelum era modern seperti masa kita ini ada sebuah peradaban maju yang telah menguasai teknologi nuklir? Sedangkan masa sebelum 4000 SM dianggap sebagai masa prasejarah dimana peradaban Sumeria dianggap peradaban tertua didunia tidak ditemukan kemajuan semacam ini?
Namun selama ini terdapat berbagai diskusi, teori dan penyelidikan mengenai kemungkinan bahwa dunia pernah mencapai sebuah peradaban yang maju sebelum tahun 4000 SM.
Teori Atlantis, Lemuria, kini makin diperkuat dengan bukti tertulis seperti percakapan Plato mengenai dialog Solon dan pendeta Mesir kuno mengenai Atlantis, naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana & Bharatayudha mengenai dinasti Rama kuno, dan bukti arkeologi mengenai peradaban Monhenjo-Daroo, Easter Island dan Pyramid Mesir maupun Amerika Selatan.
# Penelusuran fakta ilmiah
Akhir-akhir ini perhatian saya tertuju pada sebuah teori mengenai kemungkinan manusia pernah memasuki zaman nuklir lebih dari 6000 tahun yang lalu. Peradaban Atlantis di barat, dan dinasti Rama di Timur diperkirakan berkembang dan mengalami masa keemasan antara tahun 30.000 SM hingga 15.000 SM.
Atlantis memiliki wilayah mulai dari Mediteranian hingga pegunungan Andes di seberang Samudra Atlantis sedangkan Dinasti Rama berkuasa di bagian Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia Tengah. Peninggalan Prasasti di Indus, Mohenjo Daroo dan Easter Island (Pasifik Selatan) hingga kini belum bisa diterjemahkan dan para ahli memperkirakan peradaban itu berasal jauh lebih tua dari peradaban tertua yang selama ini diyakini manusia (4000 SM). Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya ‘Seven Rishi City’ yg salah satunya adalah Mohenjo Daroo (Pakistan Utara).
Dalam suatu cuplikan cerita dalam Epos Mahabarata dikisahkan bahwa Arjuna dengan gagah berani duduk dalam Weimana (sebuah benda mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, lalu dalam sekejap bumi bergetar hebat, asap tebal membumbung tinggi diatas cakrawala, dalam detik itu juga akibat kekuatan ledakan yang ditimbulkan dengan segera menghancurkan dan menghanguskan semua apa saja yang ada disitu.
Yang membuat orang tidak habis pikir, sebenarnya senjata semacam apakah yang dilepaskan Arjuna dengan Weimana-nya itu?
Ada beberapa penelitian yang berusaha menguak tabir misteri kehidupan manusia di masa lampau ini. Tentang bagaimana kehidupan sosial hingga kemajuan ilmu dan teknologi mereka. Beberapa waktu belakangan banyak hasil penelitian yang mengejutkan. Dan dari berbagai sumber yang telah saya pelajari, secara umum penggambaran melalui berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini telah pula memberikan beberapa bahan kajian yang menarik, antara lain adalah:
Permulaan sebelum dua milyar tahun hingga satu juta tahun dari peradaban manusia sekarang ini teryata telah terdapat peradaban manusia. Dalam masa-masa yang sangat lama ini terdapat berapa banyak peradaban yang demikian maju namun akhirnya menuju pada sebuah kebinasaan? Dan penyebab kebinasaan itu adalah tiada lain akibat peperangan yang pernah terjadi.
Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30.000-15.000 SM). Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir. Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).
Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato. Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi’s City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo. Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.
Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar. Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.
Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari ‘wahana terbang’ yang disebut ‘Vimana’ yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini. Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu Piramid di Mesir (Foto: relief jenis pesawat di Piramida Mesir di bawah ini) dan Amerika Selatan.
Buku ini telah mencatat kehidupan dua saudara sepupu yakni Kurawa dan Pandawa yang hidup di tepian sungai Gangga meskipun akhirnya berperang di Kurukshetra. Namun yang membuat orang tidak habis berpikir adalah kenapa perang pada masa itu begitu dahsyat? Padahal jika dengan menggunakan teknologi perang tradisional, tidak mungkin bisa memiliki kekuatan yang sebegitu besarnya.
Spekulasi baru dengan berani menyebutkan perang yang dilukiskan tersebut, kemungkinan adalah semacam perang nuklir! Perang pertama kali dalam buku catatan dilukiskan seperti berikut ini: bahwa Arjuna yang gagah berani, duduk dalam Weimana (sarana terbang yang mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh. seperti hujan lebat yang kencang, mengepungi musuh, dan kekuatannya sangat dahsyat.
Dalam sekejap, sebuah bayangan yang tebal dengan cepat terbentuk di atas wilayah Pandawa, angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan menjadi tidak berfungsi, kemudian badai angin yang dahsyat mulai bertiup wuuus..wuuus.. disertai dengan debu pasir. Burung-burung bercicit panik seolah-olah langit runtuh, bumi merekah. Matahari seolah-olah bergoyang di angkasa, panas membara yang mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang, di kawasan darat yang luas, binatang-binatang mati terbakar dan berubah bentuk, air sungai kering kerontang, ikan udang dan lainnya semuanya mati. Saat roket meledak, suaranya bagaikan halilintar, membuat prajurit musuh terbakar bagaikan batang pohon yang terbakar hangus.
Jika akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna bagaikan sebuah badai api, maka akibat serangan yang diciptakan oleh bangsa Alengka juga merupakan sebuah ledakan nuklir dan racun debu radioaktif.
Gambaran yang dilukiskan pada perang dunia ke-2 antara Rama dan Rahwana lebih membuat orang berdiri bulu romanya dan merasa ngeri: pasukan Alengka menumpangi kendaraan yang cepat, meluncurkan sebuah rudal yang ditujukan ke ketiga kota pihak musuh. Rudal ini seperti mempunyai segenap kekuatan alam semesta, terangnya seperti terang puluhan matahari, kembang api bertebaran naik ke angkasa, sangat indah. Mayat yang terbakar, sehingga tidak bisa dibedakan, bulu rambut dan kuku rontok terkelupas, barang-barang porselen retak, burung yang terbang terbakar gosong oleh suhu tinggi. Demi untuk menghindari kematian, para prajurit terjun ke sungai membersihkan diri dan senjatanya.
Banyak spekulasi bermunculan dari peristiwa ini, diantaranya ada sebuah spekulasi baru dengan berani menyebutkan bahwa perang Mahabarata adalah semacam perang NUKLIR!!
Tapi, benarkah demikian yang terjadi sebenarnya? Mungkinkah jauh sebelum era modern seperti masa kita ini ada sebuah peradaban maju yang telah menguasai teknologi nuklir? Sedangkan masa sebelum 4000 SM dianggap sebagai masa prasejarah dimana peradaban Sumeria dianggap peradaban tertua didunia tidak ditemukan kemajuan semacam ini?
Namun selama ini terdapat berbagai diskusi, teori dan penyelidikan mengenai kemungkinan bahwa dunia pernah mencapai sebuah peradaban yang maju sebelum tahun 4000 SM.
Teori Atlantis, Lemuria, kini makin diperkuat dengan bukti tertulis seperti percakapan Plato mengenai dialog Solon dan pendeta Mesir kuno mengenai Atlantis, naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana & Bharatayudha mengenai dinasti Rama kuno, dan bukti arkeologi mengenai peradaban Monhenjo-Daroo, Easter Island dan Pyramid Mesir maupun Amerika Selatan.
# Penelusuran fakta ilmiah
Akhir-akhir ini perhatian saya tertuju pada sebuah teori mengenai kemungkinan manusia pernah memasuki zaman nuklir lebih dari 6000 tahun yang lalu. Peradaban Atlantis di barat, dan dinasti Rama di Timur diperkirakan berkembang dan mengalami masa keemasan antara tahun 30.000 SM hingga 15.000 SM.
Atlantis memiliki wilayah mulai dari Mediteranian hingga pegunungan Andes di seberang Samudra Atlantis sedangkan Dinasti Rama berkuasa di bagian Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia Tengah. Peninggalan Prasasti di Indus, Mohenjo Daroo dan Easter Island (Pasifik Selatan) hingga kini belum bisa diterjemahkan dan para ahli memperkirakan peradaban itu berasal jauh lebih tua dari peradaban tertua yang selama ini diyakini manusia (4000 SM). Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya ‘Seven Rishi City’ yg salah satunya adalah Mohenjo Daroo (Pakistan Utara).
Dalam suatu cuplikan cerita dalam Epos Mahabarata dikisahkan bahwa Arjuna dengan gagah berani duduk dalam Weimana (sebuah benda mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, lalu dalam sekejap bumi bergetar hebat, asap tebal membumbung tinggi diatas cakrawala, dalam detik itu juga akibat kekuatan ledakan yang ditimbulkan dengan segera menghancurkan dan menghanguskan semua apa saja yang ada disitu.
Yang membuat orang tidak habis pikir, sebenarnya senjata semacam apakah yang dilepaskan Arjuna dengan Weimana-nya itu?
Ada beberapa penelitian yang berusaha menguak tabir misteri kehidupan manusia di masa lampau ini. Tentang bagaimana kehidupan sosial hingga kemajuan ilmu dan teknologi mereka. Beberapa waktu belakangan banyak hasil penelitian yang mengejutkan. Dan dari berbagai sumber yang telah saya pelajari, secara umum penggambaran melalui berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini telah pula memberikan beberapa bahan kajian yang menarik, antara lain adalah:
Permulaan sebelum dua milyar tahun hingga satu juta tahun dari peradaban manusia sekarang ini teryata telah terdapat peradaban manusia. Dalam masa-masa yang sangat lama ini terdapat berapa banyak peradaban yang demikian maju namun akhirnya menuju pada sebuah kebinasaan? Dan penyebab kebinasaan itu adalah tiada lain akibat peperangan yang pernah terjadi.
Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30.000-15.000 SM). Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir. Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).
Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato. Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi’s City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo. Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.
Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar. Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.
Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari ‘wahana terbang’ yang disebut ‘Vimana’ yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini. Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu Piramid di Mesir (Foto: relief jenis pesawat di Piramida Mesir di bawah ini) dan Amerika Selatan.

Foto: relief jenis pesawat di Piramida Mesir